| MTI KHUSUS 02 |
|
|
 |
MTI-K-02 (INDEX)►
UTAMA:
01
02
03
04
05 BUPATI:
06 07
08
09
10
11
12
13 WABUP:
14 SEKKAB:
15 GERBANG DAYAKU:
16
17
18
19 KAPUR
SIRIH: 20 ==
Kutai Kartanegara (09)
Syaukani Pejuang Otonomi Daerah= Orbitkan Kukar Jadi Model Otda
MTIK 02: Bupati Kutai Kartanegara
Prof Dr H Syaukani Hasan Rais boleh dibilang seorang pejuang otonomi
daerah. Ketua Umum Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh
Indonesia) periode 2000-2004, itu berjuang demi mantapnya pelaksanaan
otonomi daerah. Dia pun mengorbitkan Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai
model otonomi daerah (Otda), terbukti dari banyaknya Pemkab daerah lain
melakukan studi banding ke Kukar.
Sejalan dengan bergulirnya reformasi, yang salah satu
buahnya adalah desentralisasi atau otonomi daerah (Otda), Syaukani mampu
melakoninya dengan cekatan. Dia menyuarakan dan mengaplikasikan Otda itu
dengan baik dan berani di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dia
berjuang demi terwujudnya kemandirian daerah itu. Namun, di lain pihak,
dia sangat menyesali sebagian pemimpin daerah yang menerjemahkan otonomi
daerah dengan pemahaman sempit, seperti dalam hal pengangkatan pejabat
harus putera asli daerah.
Dia pemimpin yang berwawasan kebangsaan. Seorang muslim yang taat dan
tak membedakan siapa pun oleh faktor agama, suku dan golongan.
Menurutnya, otonomi itu harus diartikan luas, seperti misalnya
pengertian putera bangsa. Putra bangsa itu siapa pun dia, dari mana pun
dia, suku apa pun dia, agama apa pun dia, kalau dia berbakti, berkorban,
berjuang untuk negara dia adalah putra bangsa.
Begitu pula putera daerah. Dari mana pun dia, suku apa pun dia, agama
apa pun dia, kalau dia berbakti, berjuang, berkorban untuk daerah, dia
putera daerah. Jangan diartikan sempit, harus suku tertentu, harus lahir
di sini, tidak. Dia menjadikan Kutai Kartanegara menjadi rumah
Indonesia. “Nggak ada sukuisme di sini. Cermin Pancasila di sini, cermin
Indonesia di sini,” katanya.
Semenjak bergulirnya otonomi daerah (Otda), dan di bawah pimpinan duet H
Syaukani dan Samsuri Aspar, Kabupaten Kutai Kartanegara mulai bangkit
untuk mennyejahterakan masyarakatnya. Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) H
Syaukani HR mengatakan semenjak masih akan diberlakukannya otonomi
daerah, kami dan beberapa daerah lainnya terus memperjuangkan semangat
otonomi daerah.
Menurut Syaukani, dampak otonomi daerah sungguh dirasakan sebagai
anugerah tersendiri bagi daerah-daerah di Indonesia. Sebab, Otda
melahirkan kebijakan kuat bagi daerah untuk membangun dan membangun
wilayahnya ke arah lebih baik.
Dia menjelaskan, Otda juga sangat berkaitan dengan peningkatan APBD dan
PAD. Bahkan di Kukar sendiri APBD yang diperoleh hampir mencapai Rp 4
triliun. Menurut Syaukani, melalui Otda, daerah bisa berkreasi
menciptakan dan memanfaatkan peluang yang lebih baik dari sebelumnya.
Oleh sebab itu, dia bertekad akan terus memperjuangkan Otda.
Kecerdasan, totalitas pengabdian dan wawasan kebangsaannya membuat
Syaukani pantas digelari sebagai pejuang otonomi daerah. Dia seperti tak
kenal lelah berbicara dan berjuang dalam berbagai kesempatan tentang
otonomi daerah. Tak heran bila pada kesempatan pertama terbentuknya
Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) dia terpilih
menjadi Ketua Umum periode 2000-2004.
Sejak itu pula, dia makin dikenal bahkan didambakan untuk memimpin dalam
ruang lingkup yang lebih luas, apakah sebagai gubernur, menteri atau
jabatan yang lebih tinggi, demi makin mantapnya pelaksanaan otonomi
daerah, tanpa kuatir rapuhnya NKRI. Menurut Syaukani, bila daerah kuat
negara akan kokoh.
Dia memang seorang Bupati, yang memiliki kapasitas dan wawasan
kepemimpinan tingkat nasional. Dia pemimpin berkarakter dan
berkepribadian kuat seteguh batu karang, berprinsip pengabdian laksana
lilin serta berdedikasi, integritas dan komitmen kebersamaan bak lebah.
Memiliki mata hati dan kecerdasan (intelektual, emosional dan spritual)
yang prima serta visi yang besar, bening dan berani (great, clear and
bold vision), jauh melebihi tantangan tugasnya sebagai bupati.
Dia cendekiawan, profesor doktor, ekonom, politisi dan birokrat yang
membumi. Pak Kaning, panggilan akrabnya, menggerakkan potensi semua
komponen daerahnya, Kutai Kartanegara, dengan konsep Gerbang Dayaku yang
brilian, realistis dan implementatif.
Prof Dr H Syaukani Hasan Rais, SE, MM, yang juga menjabat Ketua DPD
Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur dan Rektor Universitas Kutai
Kartanegara (Unikarta) ini menjadi profesor pertama yang dihasilkan
perguruan tinggi swasta di seluruh Pulau Kalimantan. Doktor Ilmu
Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor ini memprakarsai Gerakan
Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai (Gerbang Dayaku) untuk
mengakselerasi pembangunan dan kemandirian daerahnya.
Pimikiran dan konsepnya tentang Gerbang Dayaku itu berhasil mengorbitkan
Kutai Kartanegara pada tingkat kemajuan spektakuler yang mengundang
decak kagum berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat daerahnya tetapi
juga masyarakat seantero negeri. Di bawah kepemimpinannya, Kutai
Kartanegara menebar wangi harum keberhasilan ke berbagai penjuru negeri,
bukan hanya karena berita tentang kekayaan sumber daya alamnya melainkan
juga oleh kreatifitas dan kapasitas kepemimpinan bupatinya, Prof Dr H
Syaukani HR, MM. Dengan Gerbang Dayaku Tahap II, dia mencanangkan 2010
Kutai Bersinar, menuju Kutai Emas.
Ketika reformasi bergulir, dia terpilih menjabat Bupati Kukar, 14
Oktober 1999 — (Kesempatan yang sebelumnya tertutup baginya. Sebab dia
sejak 1992 sudah diusulkan berbagai elemen masyarakat Kutai untuk
menjabat bupati, tetapi selalu dikandaskan oleh sistem politik, yang
disebutnya demokrasi semu, kala itu) – dia pun menggunakan kesempatan
itu dengan gagasan, visi dan misi cemerlang yang dirumuskan dalam
Gerbang Dayaku.
Pilkada Percontohan
Kemudian dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung,
Syaukani HR yang kembali berpasangan dengan Samsuri Aspar berhasil
meraih suara mayoritas mutlak, lebih 60 persen dari 261.790 suara
pemilih yang sah. Pilkada Kutai Kartanegara, ini adalah Pilkada pertama
secara langsung oleh rakyat. Maka Pilkada Kukar ini sering juga disebut
sebagai percontohan bagi 365 kabupaten dan 33 provinsi di Indonesia.
Pilkada yang diikuti tiga pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati
Kukar, yakni pasangan Sofyan Alex – HM Irkham, Tadjoeddin Noer – Djebar
Bukran, dan Syaukani HR – Samsuri Aspar, itu semula diprediksi beberapa
pengamat tidak akan berlangsung damai, ternyata rakyat membuktikan
kesadaran politiknya secara jujr, dan damai. Kekuatiran itu sempat
muncul sehubungan ketika kampanye, terjadi black campaign untuk menjegal
calon kuat yang didukung mayoritas masyarakat, yakni pasangan Syaukani
HR – Samsuri Aspar. Di antaranya, Syaukani dituduh korupsi, sebagai
upaya pembunuhan karakter.
Tapi kampanye hitam itu, ter-nyata tidak mampu mempenga-ruhi pilihan
rakyat. Rakyat punya mata hati yang mampu melihat siapa pemimpin yang
mereka inginkan. Terbukti pasangan Syaukani HR dan Samsuri Aspar meraih
suara lebih 60 persen.
Setelah terpilihnya pasangan Syaukani HR dan Samsuri Aspar, untuk
menjabat Bupati dan Wakil Bupati periode 2005-2010, gejolak politik yang
sebelumnya selama berbulan-bulan terjadi, spontan berhenti. Kutai
Kartanegara, terutama kota Tenggarong, kembali damai. Sejak itu pula,
Syaukani sering didaulat sebagai pembicara dalam berbagai kegiatan
seminar dan panel diskusi mengenai otonomi daerah, demokrasi dan Pilkada.
Lengkaplah julukannya sebagai salah satu tokoh pejuang otonomi daerah.
Model Otda
Julukan itu menjadi lebih pantas, manakala dicermati dari banyaknya
Pemkab (eksekutif dan legislatif) daerah lain melakukan studi banding ke
Kabupaten Kutai Kartanegara. Kukar telah mengorbit sebagai model Otda,
yang patut dijadikan contoh oleh daerah lain.
Setiap bulan, selalu saja ada wakil rakyat dan pejabat Pemkab daerah
lain dari seantero nusantara datang berkunjung melakukan studi banding
ke kabupaten yang menduduki posisi teratas (terbesar) Anggaran
Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) se-Indonesia itu. Mereka
berduyun-duyun datang untuk menyaksikan keberhasilan Pemkab Kukar di
bawah pimpinan Prof Dr H Syaukani HR MM dan H Samsuri Aspar dengan
program Gerbang Dayaku (Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai
Kartanegara).
Umumnya mereka ingin menyaksikan dan belajar dari aplikasi program
Gerbang Dayaku itu. Setelah menginjakkan kaki di tanah Kota Raja (Tenggarong),
mereka sangat terkesan menyaksikan pesona Kutai Kartanegara yang telah
banyak dipublikasikan dan dibicarakan orang di seantero negeri.
Seperti pada awal April 2007 lalu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) dari 3 daerah secara bersamaan melakukan kunjungan ke
Kukar. Yakni anggota Komisi C dan D DPRD Lombok Barat, Provinsi NTB,
anggota Komisi I dan III DPRD Cianjur, Jawa Barat dan anggota Komisi A
dan C DPRD Sawahlunto, Sumatra Barat (Sumbar). Sebagaimana lazimnya,
sebagai tuan rumah yang baik, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kukar Drs HM
Husni Thamrin MM didampingi sejumlah pejabat dinas dan anggota DPRD
Kukar, menyambut para tamu sekaligus di Ruang Serba Guna Kantor Bupati.
Husni Thamrin menjelaskan program dan implementasi Gerbang Dayaku. Acara
penyambutan itu berlangsung hampir tiga jam. Para tamu terlihat amat
antusias. Ketua DPRD Lombok Barat H Takdir Mahdi berharap program
Gerbang Dayaku yang diterapkan Pemkab Kukar bisa mereka adopsi untuk
membangun daerahnya. Dia mengaku tertarik melakukan studi banding ke
Kukar setelah mendengar daerah ini memiliki APBD lebih Rp3 triliun.
Takdir Mahdi melihat adanya perbedaan yang mencolok antara Kukar dan
Lombok Barat, terutama dalam hal pembangunan pedesaan dan peningkatan
ekonomi kerakyatan. Di Kukar, anggaran pembangunan pedesaan telah
mencapai Rp2 miliar setiap desa. Dana itu disalurkan dalam bentuk proyek
program Gerbang Dayaku. Sedangkan di Lombok Barat, hanya Rp50 juta per
desa. Mereka ingin belajar dari kebijakan pembangunan pedesaan Kukar ini.
Selaian itu, kata Takdir, kami juga ingin belajar mengenai kebijakan di
sektor pertambangan dan pelayanan kesehatan.
Begitu juga ketua rombongan DPRD Cianjur H Suratman ingin mengamati dan
belajar dari program Gerbang Dayaku, terutama agrobisnis dan pariwisata
yang menjadi sektor andalan daerahnya. Mereka berharap bisa menjalin
kerjasama untuk sama-sama menggalang kemajuan pariwisata.
Sebelumnya, awal Maret 2007, rombongan DPRD Kabupaten Pelalawan,
Provinsi Riau, juga datang mempelajari Program Gerbang Dayaku. Jon
Hendri Hasan, selaku ketua rombongan mengatakan Kukar dan Pelalawan
kondisinya tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama memiliki Sumber Daya Alam
(SDA). Juga berbagai ragam budaya dan masyarakatnya majemuk.
Permasalahan yang dihadapi juga sama yakni kekayaan alam akan berkurang
dan habis. Mereka pun ingin memelajari kebijakan Pemkab Kukar
mengantisipasi hal itu. Mereka sangat tertarik mengadopsi Gerbang Dayaku.
DPRD Maros, Sulawesi Selatan juga sudah studi banding ke Tenggarong,
Desember 2006. Ketua DPRD Maros, HA Burhanuddin mengatakan targetnya
berkunjung ke Kukar untuk memelajariprogram pemberdayaan SDM, kebijakan
di sektor tambang golongan B (batu bara), dan pembangunan pedesaan.
“Kami ingin pelajari program-program itu, mudah-mudahan bisa kami adopsi
untuk diterapkan di Maros,” jelasnya.
Pada 20 Desember 2006 DPRD Madiun, Provinsi Jawa Timur (Jatim) juga
studi banding ke Kukar. Mereka tertarik karena sudah banyak mendengar
tentang Kukar, baik dari media cetak maupun media elektronik.
Sebelumnya, awal Desember 2006 rombongan Pemkab dan DPRD Magelang (Jawa
Tengah), Pemkot dan DPRD Mojokerto (Jawa Timur) serta Pemkab dan DPRD
Bone (Sulawesi Selatan) juga berkunjung ke Tenggarong. Asisten IV Bidang
Kesra dan Humas Gufron Yusuf menyambut rombongan tiga daerah itu
sekaligus di ruang serbaguna Kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar).
Pimpinan rombongan Pemkab dan DPRD Magelang, Drs Iwan Rozali memfokuskan
kunjungan mereka pada sektor peningkatan ekonomi kerakyatan. Khususnya
menyangkut kebijakan Pemkab Kukar menyediakan subsidi tanpa bunga dan
agunan (jaminan) Rp 500 juta per desa tiap tahun. Mereka ingin pelajari
bagaimana mekanisme penyalurannya.
Sementara ketua rombongan Pemkot dan DPRD Mojokerto, Drs H Nur Cholis,
lebih tertarik pada kebijakan sektor pemberdayaan SDM, khususnya
menyangkut pembebasan biaya pendidikan SD-SLTA di Kukar. Sedangkan H
Abdul Rahman, pimpinan rombongan Pemkab dan DPRD Bone mengatakan, mereka
datang jauh dari Bone untuk membangun kerja sama sekaligus ingin
memelajari kebijakan Pemkab Kukar tentang penyerapan tenaga kerja dan
pengelolaan sektor pertambangan batu bara. Menurut Rahman, Bone juga
memiliki potensi tambang batu bara yang diperkirakan 5-6 juta ton, namun
belum dikelola maksimal.
Sehari sebelumnya, 6 Desember 2006, Pemkab dan DPRD Klungkung, Bali
berkunjung ke Tenggarong. Mereka ingin tukar informasi, karena program
Gerbang Dayaku Tahap II yang diterapkan Kukar dinilai ada persamaan
dengan program pembangunan di Klungkung, khususnya mengenai pemberdayaan
SDM, peningkatan ekonomi rakyat dan sektor pariwisata.
Pada November 2006, rombongan DPRD Karanganyar, Jawa Tengah dan Kuantan
Singingi, Riau, juga studi banding ke Tenggarong. Kedua rombongan
berharap kiranya model program Gerbang Dayaku yang diterapkan di Kukar
dapat diterapkan di daerahnya.
Sementara itu, awal November 2006, Pansus DPRD Tulang Bawang, Lampung,
berkunjung ke Tenggarong, untuk mencari referensi, berkaitan dengan tiga
Perda yang akan mereka buat. Yakni, Perda tentang Pengangkatan dan
Pemberhentian Kepala Desa atau Kepala Kampung, Perda tentang Anggaran
Biaya Kampung (ABK), dan Perda tentang Pembentukan Kampung dan Badan
Permusyawaratan Kampung (BPK).
“Kkami benar-benar ingin belajar banyak tentang ketiga Perda yang
direncanakan itu,” kata Ketua Pansus DPRD Tulang Bawang, Zulkifli Husain.
DPRD Pasaman Barat (Pasbar) Sumatera Barat, dan DPRD Luwu Utara (Lutra)
Sulawesi Selatan, juga berkunjung di Kota Raja Tenggarong, Oktober 2006.
Mereka ingin belajar tentang kebijakan Pemkab Kukar dalam program
Gerbang Dayaku, antara lain menyangkut sektor pertambangan dan upaya
membangun iklim investasi yang sehat.
Itulah sederet gambaran betapa banyaknya Pemkab daerah lain yang telah
menjadikan Kukar sebagai model Otda yang patut ditiru. Hampir setiap dua
pekan, selalu ada rombongan DPRD dan Pemkab daerah lain datang melakukan
studi banding ke Kukar. ►mtik/dap
*** Majalah Tokoh Indonesia (www.e-ti/majalah)
|