A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  M A J A L A H
 ► MTI Reguler
 ► MTI Khusus
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pemda
     ► Kaltim
     ► Kukar
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 

 
  C © updated 01072007  
   
  ► e-ti/cover mtik-02  
  MTI Khusus 02

Kukar ZBPA dan di Pentas Dunia

Kukar, Zona Bebas Pekerja Anak (6-15)Kutai Kartanegara di Pentas Dunia (16) = Kukar di Pentas ILO (17-23) = Pidato Syaukani di Sidang ILO (24-25) = Tuan Rumah Pentas UNCTAD-PBB (26-39)Bupati H Syaukani HR, Kontrak dengan Allah (40-53) = Pamong Entrepreneur (54-62) = Entreprenuership Leadership Award 2006 (63) = Orbitkan Kukar Jadi Model Otda (64-71) = Bupati dan Kabupaten Terpopuler (72-75) = Setiakawan Award (76) = Penghargaan Investasi Sosial (77) = Anugerah Aksara (78-79) ► Drs H Samsuri Aspar MM, Tak Lelah Sosialisasikan GD (80-85) ► Drs HM Husni Thamrin MM, Dorong Etos Kerja Tinggi (86-87) ► Gerbang Dayaku Jadikan Kukar Bersinar (88-89) ► Gerbang Dayaku (90-125) ► Pemkab Pertama Terapkan E-Government (126-127) ► Prioritas Pembangunan Desa(128-130) ► Kapur Sirih (3)

 

 
     
 
MTI KHUSUS 02

 

MTI-K-02 (INDEX)

 UTAMA:  01  02  03  04  05  BUPATI:  06  07  08  09  10  11  12  13  WABUP:  14  SEKKAB: 15  GERBANG DAYAKU:  16  17  18  19  KAPUR SIRIH: 20  ==

Kutai Kartanegara (06)

Syaukani: Kontrak Dengan Allah

 

Bekerja Demi Rakyat dalam Filosofi Batu Karang, Lilin dan Lebah


MTIK 02: Di mata berbagai kalangan, Prof Dr Syaukani HR, MM
adalah pemimpin yang amat kreatif dan berdedikasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Kutai Kartanegara (Kukar). Dia dipandang sebagai seorang bupati yang punya komitmen secara total untuk menyejahterakan rakyatnya. Syaukani, yang oleh rakyat Kalimantan Timur akrab disapa Pak Kaning, dinilai mampu menggagas, melahirkan dan mengimplementasikan program Gerbang Dayaku, yang diyakini bisa melepaskan rakyat dari lingkaran keterbelakangan.


Komitmen yang kuat untuk bekerja demi rakyat, tertanam dalam kalbunya. Bahkan saat dia harus opname selama dua bulan di rumah sakit karena sakit, serta diperhadapkan dengan masalah sangkaan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia banyak mengambil hikmah. Dalam percakapannya dengan wartawan Tokoh Indonesia, sehari setelah keluar rumah sakit dan beberapa jam sebelum ditahan KPK, Syaukani memaparkan perenungannya.


Pertama, atas sangkaan korupsi yang dialamatkan kepadanya, Syaukani berprinsip menghormati proses hukum. Dia ingin agar proses hukum ini cepat selesai. Dia merasa diri tidak bersalah. “Apa yang saya lakukan adalah untuk mempercepat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Kukar,” katanya.


Kedua, selama di rumah sakit dan diperhadapkan dengan sangkaan korupsi, dia makin merasakan apa arti persahabatan yang hakiki. Dia berterimakasih kepada berbagai pihak, terutama rakyat Kalimantan Timur (Kaltim) yang memberikan dukungan moral kepadanya.


Ketiga, lebih dari hal pertama dan kedua, dia juga makin memaknai kepercayaan rakyatnya sebagai amanah dan kontrak dengan Allah. Jika sebelumnya dia menjadikan kepercayaan rakyatnya sebagai kontrak dengan rakyat, setelah pengalaman di rumah sakit dan menghadapi masalah sangkaan korupsi itu, dia lebih memaknai jabatan dan kepercayaan rakyatnya sebagai kontrak dengan Allah. Dia ingin bekerja lebih total demi rakyat dalam filosofi batu karang, lilin dan lebah.


Keterpaduan prinsip hidup, yang juga merupakan prinsip kepemimpinannya, seperti batu karang, lilin dan lebah, itu menunjukkan tekad totalitas pengabdiannya. Maka tak heran bila ada pers nasional dan banyak pihak yang menyebutnya menjadi anugerah bagi rakyat Kutai Kartanegara. Disebut, sungguh masyarakat Kutai Kartanegara tidak salah ketika memilihnya untuk periode kedua sebagai bupati.


Gaya kepemimpinan yang merakyat membuat pupularitas-nya demikian tinggi di tengah masyarakat. Kepemimpinan yang merakyat itu lahir dari mata batin dan kata hatinya yang paling dalam. Bukan dibuat-buat seperti dilakukan beberapa pemimpin dewasa ini. Melainkan lahir dari dalam dirinya yang berproses sejak masa kecil di bawah asuhan ibundanya. Pada usia tiga tahun, ayahandanya telah berpulang. Sejak itu, ia diasuh ibu dan neneknya dengan kasih sayang, ketulusan berkorban, kemandirian dan kebersamaan.


Pengasuhan ibunya, serta keuletan mengasah diri sendiri (long life education) membuat mata batin, mata hati, mata budi, mata spiritualnya fungsional, yang ditandai dengan moralitas, integritas dan karakter yang relatif tak tercela (walaupun sebagai manusia, tentu dia tidak sempurna, pasti punya kekurangan manusiawi). Semua itu membuatnya mau dan mampu melihat dan mendengar dengan melibatkan diri secara total (mata, telinga, pikiran, hati dan perasaan) dengan segala konsekuensinya, di antaranya, kesiapannya menerima tamu, siapa pun dan mendengar keluhan dan harapannya. Dia tidak hanya mendengar secara ragawi, tetapi mendengar dengan hati dan akal budinya (empathic listening).

Pemimpin yang Merakyat
Proses pengasuhan Sang Bunda itu telah mengasah kepedulian dan kebersamaannya dengan rakyat kecil. Gaya kepemimpinan yang merakyat ini, tercermin sangat kasat mata dari cara bagaimana dia melayani setiap tamu yang ingin bertemu dengannya. Di tengah kesibukan dan mobilitasnya yang terbilang tinggi, dengan berbagai jabatan dan kegiatan yang diembannya, Syaukani selalu dengan ramah melayani siapa saja, tanpa mem-bedakan status dan latarbelakang orang yang ingin menemuinya.


Di mana saja dia berada selalu mau menerima siapa saja, sepanjang dia memiliki waktu. Bahkan tak jarang dia langsung mendatangi tamu yang ingin bertemu dengannya. Tak jarang Syaukani malah memilih datang menghampiri setiap tamunya. Secara bergilir dilayani satu persatu, dengan keakraban yang sama. Tak pilih kasih, apakah seseorang itu datang untuk kepentingan pribadi atau bisnis apalagi untuk kepentingan dinas atau kepentingan umum.


Dia pemimpin yang secara total mengerahkan segala yang dimiliki demi tugas pengabdiannya. Dia sungguh menganut prinsip hidup seperti lilin, yang memberi penerangan atas kegelapan, kendati dia sendiri harus meleleh. Dia seperti tidak kenal lelah dengan mobilitas dan kepebulian yang amat tinggi.
Bakat kepemimpinan Syaukani telah tampak sejak kecil. Dia memang dilahirkan sebagai pemimpin. Sejak kecil, dia telah cenderung menjadi pemimpin di antara kawan-kawannya. Namanya, Syaukani Hasan Rais pun sudah bermakna sebagai seorang yang mempunyai kekuatan sebagai pemimpin yang baik.


Syaukani lahir di Tenggarong, Kutai Kartanegara, 11 November 1948, anak kelima dan satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Hasan dan Djauhariah. Pemberian namanya Syaukani, yang dalam bahasa Arab berarti “memiliki kekuatan” sudah menunjukkan keteguhannya sebagai pemimpin. Di belakang nama itu kemudian ditambahkan (dilengkapi) nama ayah dan kakeknya, Hasan dan Rais. Sehingga nama lengkapnya menjadi Syaukani Hasan Rais.


Semakin lengkaplah makna namanya sebagai seorang yang memang dilahirkan menjadi pemimpin. Sebab dalam bahasa Arab, Hasan artinya baik dan Rais (Rois) artinya pemimpin. Dengan demikian, nama Syaukani Hasan Rais, bermakna seorang yang mempunyai kekuatan (keteguhan karakter) sebagai pemimpin yang baik.


Talenta kepemimpinannya semakin terasah, tatkala sejak usia tiga tahun, dia telah menjadi satu-satunya lelaki dalam keluarganya. Ayahnya, Hasan Rais, meninggal dunia, saat usianya memasuki tahun ketiga. Jadilah dia dan keempat kakak perempuannya sebagai anak yatim, yang diasuh dengan kemandirian seorang ibu. Kemandirian ini juga telah menjadi ciri kepemimpinannya. Semasa sekolah, karena merasa bukan berasal dari keluarga berada, dia pernah menjadi tukang reparasi jam dan berdagang untuk dapat memperoleh uang.


Sejak kecil telah terlihat kecenderungannya menjadi pemimpin di antara kawan-kawannya. Saat remaja bakat kepemimpinan itu pun makin menonjol. Semasa SMA, dia telah aktif berorganisasi. Sebagai seorang muslim yang mewarisi darah Nahdlatul Ulama (NU) dari keluarganya, ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).


Setamat SMA, dan kuliah di Universitas Mulawarman (Unmul), dia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di organisasi mahasiswa itu, dia semakin mengaktualisasikan diri sebagai seorang pemimpin masa depan. Selepas meraih gelar BSc dari Unmul, dia mulai berkiprah sebagai PNS sekaligus aktif dalam berbagai organisasi.


Pernah menjadi Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kutai pada tahun 1978, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutai periode 1982-1987, dan Wakil Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Kalimantan Timur. Dua dari organisasi tersebut berafiliasi ke Golongan Karya (Golkar), yang kini menjadi Partai Golkar.


Debutnya di pentas politik praktis dimulai tahun 1973 dengan menjadi kader Golkar Kaltim. Dia pernah menjabat di Biro Cendekiawan dan Kemahasiswaan, dan sekretaris untuk dua periode berturut-turut. Tahun 1992, dia sudah menjabat Ketua DPD Golkar Kutai, yang dijabatnya dua periode. Bahkan kini dipercaya menjabat Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Kalimantan Timur.


Syaukani memutuskan total terjun ke pentas politik dengan ikut Pemilu Legislatif pada 1997. Dia terpilih menjadi anggota DPRD Kutai dari Golkar, bahkan terpilih menjadi Ketua DPRD Kutai. Tahun 1999, dia kembali terpilih sebagai Ketua DPRD Kutai. Jabatan Ketua DPRD Kutai itu kemudian dilepaskan saat ikut mencalonkan diri sebagai Bupati Kutai. Pada 14 Oktober 1999, dia terpilih sebagai Bupati ke 9 Kutai untuk periode 1999-2004. Dan kembali terpilih sebagai Bupati Kutai Kartanegara melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pertama secara langsung oleh rakyat, pada 1 Juni 2005, dengan meraih suara mutlak, lebih 6o.85 persen atau 159.000 suara dari 261.790 suara pemilih yang sah.


Kemampuannya memimpin dan menggalang kekuatan, telah mengantarkan dirinya ke pentas politik nasional. Sebagai Bupati Kutai Kartanegara dengan dinamika sosial politik yang sedemikian liat, dia juga dipercaya oleh rekan-rekannya bupati di seluruh Kabupaten di Indonesia menjadi Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) yang pertama, periode 2000-2004. Dalam posisi itu, dia dikenal sebagai tokoh daerah yang menasional dan gigih memperjuangkan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain aktif sebagai Bupati Kutai Kartanegara (periode 1999-2004 dan 2005-2009) dia juga menjabat Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), dan Ketua Umum Pengurus Cabang Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kutai Kartanegara (dua periode). Dia juga berperan dalam Pembuatan Rancangan Undang Undang konsesi bagi hasil pertambangan.


Sebagai bupati, Syaukani sangat dekat dengan masyarakat lintas kelompok. Itulah resep mengapa dia selalu mendapat dukungan penuh dari partai dan rakyat. “Ini merupakan amanah, dan itu akan saya jaga betul,” ujar pria yang bertekad menciptakan pemerintahan yang bersih dan transparan melalui strategi yang dimilikinya.

Tiga Prinsip Hidup
H Syaukani HR memiliki tiga filosofi atau prinsip hidup yang selalu diupayakan terimplementa-si dalam keseharian kepemimpin-annya. Pertama, hidup seperti lilin. Rela berkorban (meleleh) demi menerangi sekitarnya. Artinya, harus berani berkorban demi kepentingan yang lebih besar, berguna bagi orang lain. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain demi kepentingan sesama.


Kedua, hidup seperti batu karang. Setiap saat dihantam ombak, namun tetap teguh. Tetap tenang walaupun berbagai cobaan dan tantangan menerpa. Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan dan menjadi tempat perlindungan bagi makhluk lain dalam ekosistemnya.


Ketiga, hidup seperti lebah. Selalu kompak, menghasilkan madu, tidak mengganggu jika tidak diganggu. Prinsip kekompakan, kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Perihal kekompakan ini, Syaukani mengutip Jenderal Sudirman yang mengatakan, kemenangan tidak mungkin dicapai tanpa adanya kekuatan. Salah satu faktor yang menentukan kekuatan adalah kekompakan, kebersamaan dan kesatuan. Kekuatan tidak akan mungkin tercapai apabila tidak ada kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Prinsip ini selalu dipedomaninya dalam hidup bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.


Ketiga prinsip ini cukup menggambarkan totalitas dan kapasitas kepemimpinannya. Hal mana dia dengan bening dan berani mau dan mampu mengartikulasikan ketiga prinsip itu secara jitu dalam menjawab realita multidimensi penderitaan dan harapan masyarakat sekitarnya secara keseluruhan. Sekaligus menunjukkan keberaniannya menjadi personifikasi dari ketiga prinsip itu. Dan dalam takaran tertentu, dia telah teruji dalam implementasi dan bersedia membayar harga (berkorban) demi menegakkan prinsip itu.


Baginya, ketiga prinsip, seperti lilin, batu karang dan lebah itu, bukanlah slogan kosong yang hanya enak didengar dan indah dipajang di dinding. Tetapi suatu prinsip yang harus diimplementasikan dengan penuh integritas, dalam keselarasan kata dan perbuatan, penuh keberanian, kecerdasan dan ketulusan hati. Dengan demikianlah dia mampu merumuskan realita multidimensi kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara secara akurat, di dalam konsep Gerbang Dayaku, untuk menjemput masa depan Kutai yang lebih baik. Konsep yang hanya lahir dari seorang pemimpin visioner, pemimpin yang punya visi besar, bening dan berani (great, clear and bold vision).


Masa depan Kutai, yang sebelumnya ‘ditawan’ oleh sistem sentralistik pemerintahan serta ketidakcerdasan dan ketidakberanian pendahulunya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Kutai dalam visi dan misi yang jelas dan implementatif.


Lalu, ketika reformasi bergulir, dia pun terpilih menjabat Bupati Kukar, 14 Oktober 1999 — (Kesempatan yang sebelumnya tertutup baginya. Sebab dia sejak 1992 sudah diusulkan berbagai elemen masyarakat Kutai untuk menjabat bupati, tetapi selalu dikandaskan oleh sistem politik, yang disebutnya demokrasi semu, kala itu) – dia pun menggunakan kesempatan itu dengan gagasan, visi dan misi cemerlang yang dirumuskan dalam Gerbang Dayaku.

Seteguh Batu Karang
Dalam kondisi bangsa dan negara saat ini, saat kebebasan kadang kala keluar dari koridor hukum, tarik-menarik tentang implementasi otonomi daerah, dan lain sebagainya, dibutuhkan pimpinan yang punya karakter kuat seperti batu karang. Tidak dapat runtuh oleh empasan ombak dan gelombang betapa pun dahsyatnya, sekaligus berfungsi sebagai tempat ber-lindung bagi mahluk di sekitarnya.


Hujatan dan tantangan yang menerpa, serta sebaliknya godaan politik dan ekonomi yang mementingkan diri dan kelompok, tidak boleh melemahkan karakter kepemimpinnya. Dia harus tahan banting dalam menghadapi cobaan hidup.

 

Harus berjiwa seperti batu karang yang sehari-hari dihantam ombak. Tegar dan bahkan harus bisa menentramkan amarah.
Ciri kepemimpinan seperti itu, dimiliki oleh Prof Dr H Syaukani HR SE MM, Bupati Kutai Kartanegara. Memang, satu dari tiga prinsip hidupnya adalah hidup seperti batu karang. Dia pemimpin berkarakter kuat seteguh batu karang. Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan.
Dia telah tahan uji sepanjang jenjang karirnya, terutama saat menjabat Bupati Kartanegara, sebuah daerah kabupaten di Kalimantan Timur, yang kaya sumber daya alam. Kabupaten terkaya di Indonesia. Dia tidak tergoda untuk hanya memperkaya diri.


Bahkan ketika dia diberhentikan oleh Mendagri dan Gubernur Kaltim secara tiba-tiba, yang kemudian diikuti tuduhan korupsi, dia tetap tegar dan bahkan menentramkan amarah masyarakat pendukungnya. Juga ketika dia menyampaikan suatu ide, tidak semua orang mendukung, bahkan ditentang dan dicerca, ada pro kontra, dia tetap teguh pada prinsipnya. Seperti dialaminya ketika baru meluncurkan gagasan Gerbang Dayaku. Bahkan pembangunan Pulau Kumala, delta di tengah Sungai Mahakam, di tengah kota Tenggarong, sebagai program yang ambisius.


Sungguh dia sangat menjiwai prinsip hidup batu karang itu. Dunia terumbu karang yang indah dan merupakan rumah bagi ribuan jenis binatang dan tumbuhan laut yang memiliki nilai ekonomi dan estetika tinggi. Bangunan ribuan karang yang menjadi tempat hidup, berkembang biak, pertumbuhan, berlindung dari serangan pemangsa serta mencari makan berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Setiap mahluk hidup yang tinggal di ekosistem terumbu karang memiliki fungsi yang berbeda dan saling bergantung satu dengan lainnya.


Karang Batu adalah karang yang keras disebabkan oleh adanya zat kapur yang dihasilkan oleh binatang karang. Melalui proses yang sangat lama, binatang karang yang kecil (polyp) membentuk koloni karang yang kental, yang sebenarnya terdiri atas ribuan individu polyp. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang.


Terumbu karang termasuk ekosistem yang paling tua di bumi ini. Terbentuk dalam waktu yang sangat lama. Selama satu tahun rata-rata karang hanya dapat menghasilkan batu karang setinggi 1 cm. Jadi selama 100 tahun karang batu itu hanya tumbuh 100 cm. Sehingga waktu yang dibutuhkan terumbu karang untuk tumbuh adalah antara 5000 sampai 10.000 tahun.


Batu karang, antara lain, berfungsi melindungi pantai dan penduduk dari hantaman ombak dan arus. Dia juga berfungsi sebagai sumber penghasilan bagi nelayan (tangkapan ikan), sumber kekayaan laut yang bisa digunakan sebagai obat-obatan alami dan sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian.


Begitulah prinsip hidup batu karang, yang dianut Syaukani, melalui proses pergumulan dan pengasuhan sejak masa kecil. Prinsip hidup yang membentuk karakter teguh yang hanya mungkin diperoleh seseorang dengan keuletan yang berproses dalam jangka waktu lama. Terbentuk dari butiran-butiran (polyp) pengalaman kecil menjadi kepribadian yang tangguh. Ketangguhan yang tidak hanya berguna bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain, menjadi tempat perlindungan bagi orang lain.

Prinsip Lilin dan Lebah
Apalagi prinsip hidup batu karang ini, dilengkapi prinsip hidup seperti lilin dan lebah. Prinsip hidup seperti lilin, harus berani berkorban demi kepenting-an yang lebih besar, menghilang-kan kegelapan sekalipun badan meleleh. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain demi kepentingan sesama, tanpa mengeluh. Syaukani HR, sungguh berkomitmen mewujudkan pengabdian laksana lilin dalam menjalankan amanah di setiap jabatan yang dipercayakan kepadanya.


Dia juga menganut prinsip hidup seperti lebah. Dia memiliki integritas diri bak lebah. Menganut prinsip kekompakan, kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Sama seperti sapu lidi, pelajaran waktu SD. Kalau hanya satu-satu mudah dipatahkan tapi kalau sudah jadi sapu (disatukan) akan sulit dipatahkan. Persatuan dan kekompakan harus diciptakan.


Lebah tidak pernah hinggap di tempat yang kotor, melainkan dia hinggap di atas bunga yang harum. Artinya dalam hidup setiap orang harus menghindari perbuatan yang tercela, yang tidak disukai masyarakat, yang merugikan masyarakat. “Terutama para pejabat, pemimpin, harus selalu bersama-sama menciptakan sesuatu dengan cara yang baik sesuai dengan hukum dan apa yang kita kerjakan harus bisa dinikmati masyarakat. Lebah itu menghasilkan madu. Madu itu berguna bagi orang lain. Pokoknya kita harus bermanfaat bagi orang lain,” Syaukani menjelaskan.


Lebah itu tidak pernah mengganggu tapi jangan coba-coba diganggu. Kalau tidak diganggu, kita lewat baik-baik, dia tenang saja. Tapi kalau dia diganggu, lebahnya akan menyerang secara bersama, berkerumun.


Prinsip hidup lebah ini dia amati dan petik sejak masih kecil. Kala itu dia nakal juga. Pada dahan sebuah pohon ada sarang lebah persis di atas jalan. Kemudian dia memanjat di pohon yang agak jauh menunggu ada orang lewat. Ketika seseorang lewat pakai sepeda, pas di bawah sarang lebah, dia mengganggu lebahnya dengan ketapel, sebagian jatuh ke bawah. Lalu lebahnya berkerumun menyerang orang itu.


Dalam kehidupan nyata, keadaan yang hampir sama, pernah juga dia alami. Sebagai bupati dia membina hubungan baik dengan segenap lapisan masyarakat, kompak dan sebagainya. Setelah lima tahun masa jabatannya berakhir, diperpanjang lagi oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Tapi, kemudian setelah Menteri Dalam Negeri berganti, tiba-tiba melalui Gubernur Kaltim Suwarna AF dia diberhentikan begitu saja, tanpa alasan yang jelas, tanpa koordinasi, tanpa memberitahu DPRD, dan tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat Kutai Kartanegara. Lalu, yang marah bukan dia melainkan rakyatnya, spontanitas, seperti lebah yang diganggu.


Kala itu Gubernur Suwarna AF yang menunjuk Awang Dharma Bakti sebagai Pejabat Bupati Kukar, tidak bisa masuk kota Tenggarong. Puluhan ribu massa datang menghadang, akibatnya gubernur tak berani masuk Tenggarong. Terpaksa pejabat bupati yang ditunjuk begitu saja menggantikannya dilantik di Samarinda. Ketika pejabat bupati itu mau masuk ke Tenggarong, massa berkerumun mengejarnya.


Kala itu, Syaukani ada di Jakarta. Dia bilang bahwa dia ikhlas, masa jabatannya sudah habis. Jangan dihalangi pejabat bupati itu, nanti kita ikut Pilkada saja. Tapi masyarakat terus demo menolak pemberhentiannya dan menolak penunjukan Awang Dharma Bhakti sebagai penggantinya. Mungkin itu demo terlama di dunia. Mereka, dari berbagai lapisan masyarakat, demo setiap hari selama dua bulan lebih. Bahkan buruh, guru dan murid-murid juga mogok. Kalau di tempat lain masyarakat demo menurunkan bupati tetapi di Kutai Kartanegara mereka demo dan mogok agar bupati tidak diturunkan.


Lalu, Mendagri HM Ma’ruf merespon tuntutan masyarakat itu. Awang dicopot dan digantikan Drs H Hadi Susanto, sebagai Pjs Bupati Kukar. Kebijakan ini dianggap sebagai jalan tengah dan mampu menciptakan situasi yang kondusif sampai terselenggaranya Pilkada, 1 Juni 2005.


Demikianlah prinsip hidup lebah, membentuk network. “Kalau kita membangun kebersamaan, memperhatikan orang yang susah, maka pada saat kita susah atau diganggu orang lain, kita diperhatikan dan didukung orang banyak. Itulah keadilan Tuhan. Tanpa itu nggak mungkin hatinya digerakkan oleh Tuhan, spontanitas,” kata Syaukani dalam percakapannya dengan Wartawan Tokoh Indonesia.


Dia pun dengan tenang memu-lai Gerbang Dayaku Tahap II. Sebuah konsep Gerakan Pengem-bangan dan Pemberdayaan Kutai yang sangat mudah dipahami, dan melibatkan semua komponen di daerahnya. Gerakan pemba-ngunan yang ti-dak sekadar janji dan memberi mimpi yang sulit diwujudkan, me-lainkan suatu hal yang realistis dan implementatif dengan mengga-lang kebersamaan semua komponen untuk meningkat-kan kesejahteraan bersama. ►mtik/tsl

 

*** Majalah Tokoh Indonesia (www.e-ti/majalah)