| |
C © updated 09092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Jenderal (Purn) Widodo Budidarmo
Lahir:
Desa Kapaskamprung, timur Surabaya, 1 September 1927
Isteri:
Darmiati Poeger
Anak:
Tiga orang
Jabatan Penting:
= Kepala Polda Jakarta (1970-1974)
= Kapolri (1974-1978)
= Wakil Presiden ICPO (International Criminal Police Organization) 1976
= Duta Besar RI untuk Kanada
Pendidikan:
SMA 1950
Sekolah Penerbang AURI dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
|
|
| |
|
|
|
|
Widodo Budidarmo, Kapolri (1974-1978)
Karena Kuasa dan Kasih-Nya
Dia memiliki karakter pendiam di depan umum tetapi tegas dalam bertindak.
Karakter yang dinilai banyak orang sangat cocok untuk polisi. Dia dilantik
menjadi Kepala Polri dalam usia 47. Mantan Kepala Polda Jakarta
(1970-1974) ini di mata stafnya dia seorang teladan yang memiliki jiwa
kepemimpinan, dedikasi tinggi dan taat beribadah.
Pada usia 77 tahun, dia pun mengukir segala macam pengalaman hidupnya
dengan nada santun dalam buku biografi bertajuk 'Semua Karena Kuasa dan
KasihNya.' Buku itu diluncurkan di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Sabtu 11
September 2004.
Dalam buku itu, ayah tiga anak dan kakek sejumlah cucu ini melukiskan,
"…begitulah pandangan hidup saya, semua yang saya alami, semata-mata
merupakan berkat Kuasa dan Kasih-Nya."
Salah satu prestasi terbaiknya adalah mengungkap kasus korupsi Deputi
Kepala Polri Siswadji. Terbongkarnya kasus tersebut bermula dari surat
pribadi dari Hoegeng, bekas Kepala Polri yang waktu itu sudah pensiun,
mengenai proyek pembangunan sebuah rumah. Widodo melakukan pengusutan.
Kasus tersebut terbongkar dan ternyata pelakunya adalah Siswadji, Deputi
Kepala Polri.
Siswadji dihukum penjara delapan tahun. Tiga perwira polisi lain yang
ikut korupsi; seorang mendapat tujuh tahun dan dua orang masing-masing
enam tahun penjara.
Sebagai polisi sikapnya sangat tegas. Hal tersebut tercermin ketika
terjadi musibah pada tahun 1973, salah seorang anaknya, Agus Aditono, saat
peristiwa tersebut terjadi masih duduk di kelas II SMP, bermain-main
dengan pistol, meledak, dan langsung menewaskan sopir kesayangannya.
Meski Agus Aditono anaknya sendiri, anak seorang Kepala Polri, harus
bertanggung jawab. Agus diajukan ke sidang pengadilan dan dijatuhi hukuman.
Widodo Budidarmo dikenal sebagai seorang teman yang baik, oleh para teman
kelasnya di Sekolah Menengah Teknik Surabaya, di antaranya Jenderal (Purn)
Widjojo Soejono. Sekolah tersebut paling tidak telah melahirkan
empat jenderal bintang empat. Selain Widodo dan Widjojo, dua lainnya
adalah almarhum Marsekal Soewoto Soekendar dan Jenderal Soemitro.
Widodo, lahir di Desa Kapaskamprung, timur Surabaya, pada 1 September
1927. Dia Anak sulung seorang kasir pabrik gula. Semasa remaja dia
bercita-cita menjadi penerbang. Bersama Soewoto Soekendar ia mendaftar
masuk tentara sukarela Heiho di Jakarta. Baru tiga bulan mengikuti latihan,
Jepang menyerah, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Perang kemerdekaan
yang menyusul datang memanggil Widodo menjadi anggota TRIP (Tentara
Republik Indonesia Pelajar).
Selesai perang dan setelah tahun 1950 tamat SMA, Widodo berangkat ke
Jakarta, ikut tes masuk Sekolah Penerbang AURI dan Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian (PTIK). Menurut Marsekal (Purn) Saleh Basarah, "Widodo sudah
jadi kadet penerbang angkatan I di Pangkalan AURI Andir Bandung, tetapi
kemudian pindah ke PTIK dan seterusnya merintis karier sebagai polisi."
Setelah meneliti log book dan menguji keterampilan terbang rekannya
tersebut, KSAU Saleh Basarah menyematkan wing penerbang AURI kelas III
kepada Widodo pada tahun 1975.
Dalam pandangan Widodo, polisi ideal adalah seperti di Inggris, bersikap
correct, santun dan selalu menolong. "Oleh karena itu, polisi Inggris
selalu dihormati dan dicintai masyarakat. Pedoman yang ditanamkan kepada
mereka sangat sederhana, fight crime, help deliquent, dan love humanity,"
jelasnya
Maka begitu dilantik menjadi Kepala Polri dalam usia 47 tahun, dia
langsung melakukan analisis SWOT (strenghts, weaknesses, opportunity,
threats) terhadap Polri yang jumlah personelnya saat itu sekitar 120.000
anggota. Kendala yang dihadapi Polri bisa dia temukan: kualitas dan
kuantitas SDM jelek, terbatasnya anggaran, peralatan dan kesejahteraan
kacau, gaji sangat rendah, dan asrama tidak memadai.
Situasi tersebut sering mendorong polisi melakukan penyelewengan dan juga
mengarah kepada penyalahgunaan wewenang. Namun, Widodo tetap menegaskan,
"…apa pun alasannya, setiap bentuk penyelewengan polisi harus segera
ditindak dengan tegas."
Widodo pernah menjabat Kepala Polda Jakarta (1970-1974) dan berhasil
membentuk Tekab (Team Khusus Anti Bandit). Semasa menjadi Kepala Polri
(1974-1978) dia menggelar Operasi Guruh untuk memberantas aksi
penyelundupan mobil, Operasi Guntur menertibkan orang asing, Operasi Badai
untuk memberantas narkoba, Operasi Halilintar meringkus kejahatan
bersenjata api dan melakukan Operasi 902 yang berhasil mengirim 70 gembong
penyelundup diasingkan ke Nusakambangan.
Keberhasilan tugas di dalam negeri diimbangi kiprah di luar negeri. Tahun
1976, dalam sidang tahunan Interpol di Accra, Ghana, Widodo terpilih
sebagai Wakil Presiden ICPO (International Criminal Police Organization).
Salah satu jabatan puncak internasional yang pernah dicapai anggota Polri
itu dilepaskan tiga tahun kemudian, sesudah Widodo diangkat sebagai Duta
Besar RI untuk Kanada.
Setiap menjelang Hari Natal, dia selalu mengajak keluarganya pergi keluar
kota. Alasannya, menurut istrinya, Darmiati Poeger, dia tidak mau
merepotkan dan direpotkan orang untuk urusan pribadi semacam itu. Kalau
Natal dirayakan di rumah, pasti banyak anak buah dan kolega yang terpaksa
datang. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|