| |
C © updated
08112003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Nama:
Hi Nani Wartabone
Lahir:
Gorontalo 30 Januari 1907
Meninggal:
Gorontalo 3 Januari 1986
Gelar:
Pahlawan Nasional
Karir:
Pendiri Jong Gorontalo di Jawa Timur 1923
Pelopor Pergerakan dan Pejuang Kemerdekaan
Tanda Jasa dan Penghargaan:
Surat Penghargaan Membantu Gerakan Angkatan Perang RI
Perintis Kemerdekaan
Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Bintang Mahaputra Utama
Pahlawan Nasional. |
|
| |
|
|
|
|
Hi Nani Wartabone
Peroleh Gelar Pahlawan Nasional
Jakarta 07/11/03: Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional
kepada almarhum Hi Nani Wartabone, tokoh perintis kemerdekaan asal
Gorontalo. Dalam rangkaian memperingati Hari Pahlawan 10 November 2003,
Presiden Megawati Soekarnoputri langsung menyerahkan gelar Pahlawan
Nasional itu kepada ahli waris yang diwakili salah seorang anak
laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara, Jumat 7/11/03.
Selain itu, , Presiden juga menganugerahkan tanda kehormatan Bintang
Budaya Parama Dharma kepada 10 putra bangsa yang dinilai berjasa dalam
memajukan dan membina kebudayaan nasional.
Wartabone, tokoh kelahiran Gorontalo 30 Januari 1907, ditetapkan sebagai
Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun
2003 tertanggal 6 November 2003. Ia seorang pejuang yang aktif
berorganisasi dan berjuang melawan kolonialisme di daerahnya pada masa
perjuangan kemerdekaan. Ia mulai berjuang dengan mendirikan dan menjadi sekretaris Jong
Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua
PNI Cabang Gorontalo.
Tahun 1942, ia memimpin pemberontakan dan pengambilalihan kekuasaan dari
tangan Belanda dan memproklamasikan Gorontalo merdeka sebelum tentara
Jepang tiba. Setahun berikutnya, ia ditangkap dan dipenjarakan Jepang di
Manado karena sikap perlawanannya kepada pendudukan Jepang, atas tuduhan
menyiapkan pemberontakan.
Tetapi, dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan 1945, Jepang menyerahkan
kekuasaan kepada Wartabone di Gorontalo. Ia kemudian memegang berbagai
jabatan baik di daerah maupun di pusat. Ia juga memimpin
penumpasan pemberontakan Permesta di Gorontalo tahun 1958. Ia meninggal dunia di Gorontalo
3 Januari 1986.
Tanda jasa dan penghargaan yang pernah diterima antara lain, Surat
Penghargaan Membantu Gerakan Angkatan Perang RI, Perintis Kemerdekaan,
Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia, serta Bintang Mahaputra Utama.
Kemudian pada Hari Pahlawan 2003 menerima gelar Pahlawan Nasional.
Pada kesempatan Hari Pahlawan 2003, itu Presiden juga menganugerahkan
tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada para seniman/budayawan,
yakni: Ali Akbar Navis, Djadoeg Djajakusuma, KRT Djajadipuro, Bing
Slamet, Ki Soeratman, I Gusti Bagus Sugriwa, I Ketut Marya, Fifi Young,
Miss Tjitjih, dan Tan Tjeng Bok. Kesepuluh tokoh itu sudah almarhum.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|