| |
C © updated
03122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Drs. H.Subrata, M.H
Lahir:
Cirebon, 4 Juli 1940
Agama:
Islam
Istri:
Lastari Wardiningsih
Anak:
1.Gitawati Setianingrum
2.Gangga Laksamana
3.Patria Laksamana
4.Clyde Laksamana
5.Hira Laksamana
Ayah:
K.Mukahar
Ibu:
Hj. Fasini
Jabatan:
Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI
Pangkat/Golongan: Pembina Utama - IV/e
Pendidikan:
Sarjana Sosial Politik, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional,
Fakultas Sospol, UGM, Yogyakarta (1965).
Alumni The Thomson Foundation, College, Glasgow, Skotlandia-Inggris
(1969).
Kursus Reguler Angkatan (KRA XII) Lemhannas (1979)
Pasca Sarjana, Hukum Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung (2002)
Program Doktor (S3) Ilmu Hukum-Program Pasca Sarjana, Univesitas
Padjadjaran, Bandung.
Pengalaman Pekerjaan:
Reporter TVRI sejak 1966
Kepala Seksi Perencanaan Pekabaran TVRI (1966-1975)
Kepala Sub. Direktorat Pemberitaan TVRI 1975-80
Direktur Televisi 1980-83
Dirjen RTF 1983-87
Staf Ahli Menpen Bidang Pengembangan Pers, Pendapat Umum dan Luar Negeri
1987-89
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Penerangan (1989-1990)
Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika 1990-97
Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI 1997-sekarang
Konsultan Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), tahun 2003
Penghargaan:
Bintang Jasa Utama dari Pemerintah RI (1995)
Bintang Satya Lencana Karya Satya dari Pemerintah RI (1996)
Bintang Maheswara dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), tahun 2003
Asia Vision Award dari Asia Pacific Broadcasting Union -- disampaikan pada
Sidang ABU General Asembly di Seoul Korea Selatan (1985)
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3
4 ==
Drs. H.Subrata, M.H
Pencetus Ide 'Dunia Dalam Berita'
Direktur Utama Perum Percetakan Negara ini berpendapat ada tiga
konsep yang harus dibangun agar sesuatu negara lebih stabil dalam arti
keseluruhannya yaitu membangun Identitas Nasional, Integritas Nasional,
dan Kredibilitas Nasional. Dia seorang tokoh, Si Anak Desa, yang meniti
karir mulai dari reporter sampai menjadi Direktur TVRI, Dirjen Radio
Televisi dan Film dan Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika, Deppen selama
14 tahun. Dia adalah pencetus ide Dunia Dalam Berita TVRI yang amat
diminati pemirsa hingga saat ini.
Kisah hidupnya menjadi suatu ‘buku hidup’ yang melukiskan bagaimana
kiprah gemilang seorang anak desa meniti karir dan memaknai hidupnya.
Pria kelahiran desa Mayung (14 km dari Cirebon) 4 Juli 1940, ini memulai
karirnya sebagai reporter TVRI tahun 1966. Selain berjuang menapaki
jenjang karir ia juga memaknai perjalanan hidupnya sebagai seniman,
pekerja sosial dan pencari ilmu sepanjang hayat.
Dalam perjalanan meniti karier, banyak sekali ia memetik pengalaman yang
unik dan menyenangkan. Datang ke Jakarta setelah menyelesaikan kuliahnya
di Universitas Gajah Mada, ia sempat menjadi kenek omprengan sambil
melamar ke beberapa instansi pemerintah maupun kantor swasta. Lamarannya
diterima di beberapa instansi, tapi terasa tidak memenuhi keinginannya.
Akhirnya ia memilih menjadi wartawan, bidang jurnalis yang selalu
menarik perhatiannya. Ia menjadi reporter sekaligus kameramen TVRI tahun
1966.
Di TVRI dia tidak langsung sebagai pegawai tetap, karena baru setelah
tahun 1975 dia diangkat menjadi pegawai tetap menjabat sebagai Kepala
Sub Direktorat Pemberitaan TVRI. Maka di awal
perjuangannya di TVRI, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia terpaksa
bekerja serabutan. Selain menulis berita, dia juga merangkap sebagai
juru kamera dan reporter.
Kegigihannya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan. Tanpa diduga
sebelumnya, dia terpilih mendapat beasiswa untuk mengikuti pendidikan di
The Thompson Foundation College, Glasgow, Skotlandia-Inggris, pendidikan
yang memberinya pengetahuan tentang hal-hal yang sudah berprospek ke
depan seperti masalah elektronik sampai satelit. Ia juga belajar tentang
kameramen dan reporter serta mempelajari bagaimana pola retorika
masing-masing 27 peserta didik dari berbagai negara tentang bagaimana pidato dan sebagainya.
Pendidikan tersebut diselesaikannya tahun 1969. Sehingga pada tahun
1970, dia menjadi penyiar dan kameramen di TVRI.
Saat mengikuti pendidikan tersebut ada beberapa pengalaman yang sangat
menarik sehingga dianggap menjadi bagian yang tak terlupakan dalam
sejarah perjalanan hidupnya. Salah satunya, ketika hendak berangkat ke
Glasgow, semua temannya dari 27 negara yang mengikuti pendidikan
tersebut sudah siap berangkat. Mereka sudah di luar Presiden Hotel,
London Inggris, tempat penginapan mereka sebelum menuju Glasgow. Saat itu
kebetulan dia sendiri yang datang paling akhir sehingga semakin
memperlihatkan keadaannya yang hanya memakai jas tipis dan koper kaleng
yang membuat perasaannya sedikit minder. Namun semangatnya yang tinggi
mengalahkan perasaan itu karena dalam hatinya yang terpenting adalah
ilmu.
Walau dia sempat merasa minder karena memang sebelumnya, ketika baru
turun di Hithraw -- lapangan terbang London -- dia sudah merasa
dipermalukan. Ketika itu, penjemput menanyakan mana kopernya, maksudnya
hendak dibawa ke mobil. Dia menunjukkan, tapi penjemput tadi tidak mau
mengangkatnya. Melihat bentuk tasnya agak asing dan terbuat dari kaleng,
barangkali penjemput tadi menyangkanya berisi ular. Akhirnya, tas itu
diangkatnya sendiri.
Sesampainya di Glasgow, dia tambah kedinginan karena di sana mulai bulan
September memang
lebih dingin daripada di London. Beruntung, karena lewat pengumuman dia
mengetahui bahwa siapa yang tidak memiliki baju dingin, boleh
meminjamnya dari College. Di sana pun dilihatnya, semua temannya dari 26 negara tadi tidak ada
yang mengambil kecuali dia sendiri.
Walaupun college tersebut dalam menyediakan baju dingin ‘tidak sopan’,
namun sudah sangat membantunya. Dalam hatinya yang penting sehat.
Dibilang tidak sopan karena khusus jas di colledge itu, semua kancingnya
terbuat dari kayu memanjang sekitar 7 cm, padahal yang biasa adalah kancing kecil. Jadi saat
dipakainya, orang-orang sudah tahu bahwa baju itu adalah baju pinjaman.
Sehingga dia merasa dipermalukan juga.
Hal lain yang membutuhkan ketabahannya saat itu adalah bagaimana
mempergunakan uang yang hanya $10 yang diberikan Yayasan TVRI, yayasan
yang memberangkatkannya untuk hidup berbulan-bulan di sana. Dengan duit
sebanyak itu, mungkin kalau bukan anak desa seperti dirinya, tidak akan
berani mengikutinya. Dalam pikirannya, penderitaan yang dialaminya
belumlah seberapa bila dibandingkan dengan penderitaan orang tuanya,
saudara-saudaranya, pamannya yang punggungnya terpanggang terik matahari
dari pagi sampai sore di tengah sawah sana. Dengan begitu, dia tetap
merasa terhibur di mana dan dengan situasi apa pun.
Namun di samping kenangan yang kurang menyenangkan itu, beberapa
kenangan indah juga dialaminya. Salah satunya adalah ketika ia pulang
dari Edinburg dalam rangka KKN (Kuliah Kerja Nyata), ia menemukan
selembar cek di atas meja dalam kamar asramanya. Pengirimnya adalah Pak
Ibrahim Adjie (Alm), Dubes RI untuk Inggris, diduga keras atas permintaan Pak Mintareja
(Alm),
Menteri Sosial ketika itu. Pak Mintareja ini dikenalnya melalui
pekerjaannya sebagai wartawan, dan kebetulan bertemu di Jakarta sebelum
keberangkatannya ke London.
Demikian juga ketika mengikuti praktikum dan studi lapangan di Norwich
(England), dari pesawat helikopter
Polisi dia memotret kebakaran yang kebetulan terjadi di laut. Polisi
mengijinkannya ikut karena melihat ia adalah seorang wartawan. Dengan
kamera Bell & Howell, sejumlah film berita mengesankan dia hasilkan dan
dikirimkannya ke Anglia Television. Tak disangka, film berita hasil
liputannya ditayangkan
di layar kaca sehingga dia menerima honor 50 Poundsterling, ditambah
lagi 50 Poundsterling karena Visnews tertarik membeli filmnya.
Bukan itu saja pengalaman menariknya saat menjalani profesi wartawan,
sebagai reporter dan juru kamera TVRI. Dia bangga dan menikmati profesi
itu. Dia memetik banyak pengalaman unik dan menyenangkan. Pria
berperawakan sedang ini, pernah diberi kepercayaan untuk menyusun buku
Pelita Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Dia uga pernah menggantikan
posisi Dirjen Haryono Nimpuno (Alm) untuk meresmikan salah satu proyek pelabuhan Nunukan di
Kalimantan.
Saat itu (1970-an), Haryono dalam kunjungan kerja di Banjarmasin,
Kalimantan Selatan, tiba-tiba jatuh sakit, sehingga tidak bisa
datang ke Nunukan. Lantas Haryono mewakilkannya kepadanya. Bagi Subrata
ini pendelegasian wewenang yang unik dan hampir tidak masuk akal. Sebab
ia bukan pejabat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Tetapi begitulah
kedekatan antara Haryono dengannya.
“Ah, jangan bercanda pak,” kata Subrata kepada Haryono mengenang kembali
kejadian tahun 1970-an itu. Dia pantas menolak, sebab masih banyak
direktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Laut yang semestinya bisa
menggantikan Dirjennya bila berhalangan. Sedangkan dia hanya seorang
kameramen yang ke mana-mana memanggul kamera. Rupanya Haryono serius.
Dia lalu memerintahkan ajudannya untuk membelikan Subrata kemeja baru
dan dasi.
Esoknya berangkatlah Subrata ditemani Zulkifli, rekannya sesama di TVRI
naik helikopter. Beberapa saat sebelum mendarat, Subrata melihat
penyambutan yang luar biasa. Dia kecut, tapi pantang surut. Begitu heli
mendarat dia minta Zulkifli untuk turun lebih dulu sambil berbisik,
“Nanti lu ambil gambar gua ya waktu turun.” Zul pun mengangguk lalu
turun. Begitu Subrata turun, Zul segera mengambil gambarnya.
Tidak ada yang menyalami Subrata tatkala dia turun. Mana Pak Dirjen,
mana Pak Dirjen, begitu dia mendengar orang-orang bertanya. Tidak ada
yang mengenal Subrata. Rupanya ada yang membisiki, itu orang yang
mewakili Pak Dirjen. Segeralah mereka satu persatu menyalami Subrata.
Yang disalami pun membalas bak seorang Dirjen.
Subrata sempat bingung dengan tata cara penyambutan seorang laksamana.
Maklum Haryono Nimpuno adalah perwira tinggi angkatan laut berbintang
dua. Acara berlangsung sesuai rencana. Subrata membawakan sambutan
tertulis Dirjen Perbubungan Laut. Sesungguhnya, ia merasa gerah juga.
Sesekali di dalam hati dia berkata, kapan acara ini selesai.
Sebagai seorang wartawan yang ‘ngepos’ di Departemen Perhubungan, ia
sering mengikuti kunjungan Menteri Perbubungan atau Dirjen-dirjen di
lingkungan Dephub. Jika suatu waktu usai wawancara dengan seorang Dirjen,
dia sering mengamati pejabat itu dan berkata dalam hatinya. Kapan saya
menjadi Dirjen. Oh begitulah menjadi seorang Dirjen.
Sepuluh tahun kemudian, Subrata benar-benar menjadi Direktur Jenderal.
Dia menjabat Dirjen selama lebih dari 14 tahun di lingkungan Departemen Penerangan.
Setelah itu, ia memegang posisi puncak selaku Direktur Utama di sebuah
perusahaan negara yang pernah dibinanya, Perum Percetakan Negara RI,
setelah sebelumnya menjabat pula sebagai Staf Ahli Menteri dan Kepala
Badan Penelitian & Pengembangan Penerangan.
Pengalaman berkesan lainnya selama ia bekerja di TVRI, adalah beberapa
ide yang dicetuskannya bisa dilaksanakan. Salah satu yang paling
berkesan adalah manakala ia mencetuskan ide "Dunia Dalam Berita" (2 Mei
1971) - suatu
acara yang ketika itu merupakan suatu ide baru dalam pertelevisian
karena pertama kali menampilkan dua orang penyiar sekaligus. Acara ini
menjadi kebanggaan TVRI yang diminati pemirsa.
Dia benar-benar seorang pejabat karir. Karena keuletan, kegigihan dan
keenceran otaknya dia bisa bertahan sebagai pejabat eselon I selama
lebih dari 14
tahun. Sebelum beralih menjadi seorang CEO sebagai Dirut Perum
Percetakan Negara RI, ia memegang posisi Dirjen Radio, Televisi dan Film
(1983-1987), Kepala Badan Litbang Deppen (1983-1990), dan Dirjen
Pembinaan Pers dan Grafika (1990-1997).
Tahun 1997, ia dipindahkan dari Dirjen PPG ke Perum PNRI selaku direktur
utama. Dia menerimanya dengan jiwa besar. Meski dalam kenyataan, dia
mengalami penurunan jabatan, karena perusahaan tersebut pernah dibinanya
ketika menjadi Dirjen PPG. Dan, ternyata ‘penurunan jabatan’ itu menjadi
sesuatu yang sekarang disyukurinya.
Pertama kali memasuki kantor barunya, di Perum Percetakan Negara RI, ia
mendapat kesan perusahaan ini harus dirombak dan diubah sebagai suatu
perusahaan yang betul-betul berorientasi pada bisnis. Segera dia
melakukan pembenahan. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 133 Tahun 2000,
fungsi dan peranan Perum PNRI tidak hanya melakukan kegiatan di bidang
percetakan, tetapi juga di bidang penerbitan, multi media dan jasa
grafika.
Sejumlah tenaga muda dia rekrut. Mutu SDM
ditingkatkan, disiplin kerja diterapkan dan organisasi ditata kembali.
Jajaran direksi harus berada di kantor setiap pagi mulai jam 08.00. Jika
ini bisa dipenuhi, pasti akan diikuti pegawai-pegawai yang ada di bawah
mereka.
Dalam usianya yang sudah kepala enam, dia masih kelihatan segar.
Pakaiannya necis, bicaranya lepas bahkan sering dia terbahak mengenang
suatu peristiwa puluhan tahun lalu. Dia menggemari olahraga bulutangkis.
Cukup 20 atau 30 menit keringat sudah keluar semua. Selain itu dia main
golf, untuk lobi. Di ruang tamunya ada satu patung orang sedang
mengayunkan tongkat golf.
Ketika masyarakat demam Piala Dunia, Subrata pun mengikuti dengan
seksama. Mengibaratkan permainan sepakbola, mantan Dirjen itu mengatakan
kini banyak yang tidak mematuhi aturan main. Misalnya ada wasit ikut
menendang, atau hakim garis yang tidak menyemprit padahal bola sudah
keluar lapangan.
Komposisi direktorat di lingkungan percetakan negara bisa juga
diibaratkan satu tim sepakbola. Misalnya SDM di Direktorat Pemasaran
bertugas sebagai tim penyerang yang harus mencetak gol, kemudian SDM di
Direktorat Produksi berfungsi sebagai gelandang tengah yang mengatur
aliran bola dari belakang ke depan, sedangkan SDM di Direktorat
Administrasi Keuangan berfungsi sebagai pemain belakang, yang mendukung
tugas-tugas pemain tengah dan depan. Sedangkan Direktorat Penerbitan,
Multimedia dan Pengembangan Usaha mempunyai tugas khusus menyusun taktik
dan strategi baru bagi "kesebelasannya". Fungsi Subrata adalah kapten kesebelasan merangkap playmaker.
Pengalamannya memberi banyak pelajaran, bukan hanya untuk dirinya
swendiri tetapi juga bagi banyak orang. Setidaknya, ia menarik suatu
pelajaran dari pengalaman itu, dimana perlunya rasa percaya diri dalam
setiap tindakan, namun harus tetap tenang dalam penampilan.
“Di mana pun kita berada, tidak perlu ada rasa minder atau rendah diri
dan sebagainya, tapi jangan terkesan sok. Jadi saya punya rumus, "Low
Profile tapi High Profit". Orang merendahkan diri tidak berarti memang
rendah, namun sasarannya apa. Sebagai anak desa kalau kita itu sudah
tidak menerapkan low profile tapi malah over kompensasi seolah-olah kita
sudah bisa, itu berarti pertanda awal kegagalan. Jadi, kita harus
menerimanya dengan senang hati, kita ini orang yang ada kekurangan dan
segala macam tetapi sasarannya tetap high profit,” katanya belajar dari pengalamannya
seraya memberi nasehat dan semangat.
Dalam pekerjaan di bidang apapun, suami dari Lastari Wardiningsih ini
selalu mengarahkannya ke sudut kualitatif. Yang lebih penting baginya
pendekatan kualitatif, bukan asal banyak. Sehingga dalam melihat keadaan
bangsa ini, - dengan terlebih dahulu menyatakan rasa kerendahan hatinya
- dia berpendapat, bahwa suatu negara yang berpenduduk banyak seperti
bangsa ini tapi kalau tidak melakukan pendekatan kualitatif, itu kurang bagus.
Menurutnya seseorang itu harus produktif dan kontributif. Maka kepada
bawahannya di kantor - yang disebutnya rekan-rekan – ia selalu
menyampaikan agar dimanapun mereka ditempatkan harus kontributif. “Jadi
yang banyak itu belum tentu baik, tetapi yang terbaik itu harus
diperbanyak,” ucapnya.
Eksekutif, birokrat dan seniman yang cukup rendah hati dan berjiwa
sosial yang tinggi ini, selalu memandang manusia dari sisi yang sama
sebagai insan ciptaan Tuhan, sehingga dalam setiap tindakan dan lakunya
selalu menghormati setiap manusia. Bahkan ia tidak canggung untuk
bergaul dengan tukang becak, yatim piatu maupun anak jalanan.
Ketika, menjadi reporter dan komentator TVRI, dia sering duduk satu meja
dengan para petinggi negara saat itu, antara lain Adam Malik dan lainnya.
Namun ketika interview dengan tukang becak, ia selalu jongkok lebih
rendah dari tukang becak tersebut. Hal itu dilakukannya di samping sudah
merupakan etika interview, tapi diakuinya sendiri bahwa ia memang tidak
menganggap derajatnya sudah lebih tinggi dari tukang becak tersebut.
Dan belakangan ini, pria yang selalu mengisi waktu luangnya dengan
menulis buku-buku rohani seperti Jus’ama dan lainnya ini, setiap saat pada akhir pekan, selalu berusaha menyempatkan diri melakukan
kerja sosial dengan mengumpulkan anak jalanan dan anak terlantar di
daerah Cibubur, mereka main gitar bersama, makan bersama. “Wah...
nikmatnya bukan main, saya temukan diri saya sendiri,” katanya
menggambarkan kelegaan hatinya dengan suasana itu. ► Atur Lorielcide
- Marjuka (Bersambung)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|