| |
C © updated
10122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/juka |
|
| |
Nama:
Soebagijo Ilham Notodidjojo
Lahir:
Blitar, 5 Juli 1924
Agama:
Islam
Isteri:
Siti Supiah
Anak:
- Budi Setiawan
- Budi Sawitri
- Budi Lastiti
- Budi Saraswati
- Budi Widiastuti
- Budi Prawitasari
Ayah:
Ilham Notodidjojo
Pekerjaan:
- Menulis, menyunting, menerjemahkan, menyadur, terutama biografi
dan tentang pers
- Kepala Perpustakaan dan Dokumentasi LKBN Antara (1968-1981)
- Perwakilan Kantor Berita Antara di Yugoslavia (1966-1968)
- Pemred Panyebar Semangat (1949-1957)
- Wartawan Antara (1946-1949)
- Guru (3 bulan)
Organisasi:
- Aktivis Pemuda Muhammadiyah
- Aktivis Pandu Hizbul Wathon
- Anggota PB Ikatan Pelajar Indonesia
- Pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia di Yogyakarta.
- Ketua Jemaah Pengajian Indonesia di Beograd (1966-1968)
Buku:
- PWI di Arena Masa (1998)
- Jagad Wartawan Indonesia
- Lima Windu ANTARA
- Dan lainnya yang berjumlah 42 buku
Alamat Rumah:
Jalan Tondano RP 1, Pejompongan
Sumber:
- Wawancara TokohIndonesia DotCom
- Kompas 8 Desember 2003
-
Pantau Tahun II Nomor 015 - Juli 2001
|
|
| |
|
|
|
|
Soebagijo IN
’Kamus Hidup’ Pers Indonesia
Wartawan Senior, pengarang buku Jagad Wartawan Indonesia, Soebagijo Ilham
Notodidjojo dikenal sebagai pencatat sejarah dan ‘kamus hidup’ pers
Indonesia. Pengetahuannya yang luas tentang sejarah pers Indonesia bisa
dilihat dari kemampuannya merangkai kisah sejarah pers sejak zaman Hindia
Belanda sampai tahun 1980-an, termasuk kisah kehidupan berbagai tokoh pers
dan profesi wartawan.
Selain sebagai wartawan, dia produktif menulis buku, menyunting,
menerjemahkan, dan menyadur dan terutama mengenai biografi serta tentang
pers. Ada empat puluh dua (42) buku hasil tulisannya. Semua ditempatkan
dalam rak tersendiri berdampingan dengan buku-buku lain yang hampir
semuanya tentang sejarah pers Indonesia. Lebih dari 3.000 buku ada di
rumahnya, berjajar dalam berbagai rak, belum termasuk buku-bukunya yang
sedang dimakan rayap. Ada lagi yang sangat menyedihkannya. Banyak bukunya
pernah digondol maling raib entah kemana.
Salah satu koleksi buku tuanya adalah kamus Jawa-Belanda beraksara Jawa
dan Latin yang dicetak pada 1875. Beruntung kamus ini tidak termasuk yang
dimakan rayap. Banyak orang, terutama mahasiswa, memanfaatkannya. Tercatat
di antaranya Abdurrachman Surjomihardjo (alm) yang mengambil disertasi
doktor tentang pers Indonesia. Sekarang, masih saja ada mahasiswa datang
mencari-cari bahan skripsi.
Dari sekian banyak buku yang dihasilkannya, buku Jagad Wartawan Indonesia
(1981) merupakan buku yang membanggakan baginya. Dibanding buku-bukunya
yang lain, buku Jagad Wartawan memang paling tebal. Memuat 111 tokoh pers
Indonesia, buku itu tebalnya 638 halaman. Di sana tercantum pula tokoh
Tirtohadisoerjo, "sang pemula" pers Indonesia, yang untuk pertama kali
mendirikan sebuah perseroan terbatas.
Mengumpulkan bahan untuk Jagad Wartawan sungguh penuh suka duka. Soebagijo
menyurati mereka masing-masing. Mencari bahan-bahan pustaka dan wawancara
dengan yang bersangkutan atau keterangan orang yang mengenalnya. "Ini kan
pekerjaan wartawan. Menyenangkan," katanya. Dukanya, surat-surat yang
dikirim dengan sejumlah pertanyaan tak semua dibalas. Dia pun mencari
bahan dari sumber lain. Karena itu, belum semua tokoh pers Indonesia masuk
dalam Jagad Wartawan. Inilah perlunya edisi revisi.
Buku itu pernah dikritik karena tidak mencantumkan nama Mochtar Lubis dan
H Rosihan Anwar. Menanggapi kritikan itu, Soebagijo mengatakan bahwa tokoh
yang tercantum di sana adalah wartawan Indonesia yang sudah meninggal dan
yang belum berusia 60 tahun. Pada waktu itu, Mochtar Lubis dan H Rosihan
Anwar belum berumur 60 tahun. Lewat buku itu, seperti tercantum dalam Kata
Pengantar, Soebagijo ingin ada orang muda yang meneruskan. Namun,
keinginannya itu sepertinya masih berbentuk harapan karena ia melihat
semangat mendokumentasikan fakta sejarah masih lemah di kalangan wartawan.
Di buku lain, PWI di Arena Masa (1998), dia menulis Tirtohadisoerjo atau
Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Priyayi yang sejak
1910 berkembang jadi harian. Tirtohadisoerjo dikenal sebagai pemrakarsa
pers nasional, yakni penerbitan yang dimodali modal nasional dan
pemimpinnya orang Indonesia.
Dari semua bukunya yang terbanyak adalah buku-buku biografi tokoh politik,
pemimpin rakyat, dan tokoh wartawan. Tercatat misalnya, KH Masjkur,
Sudjono, SK Trimurti, Sumanang, dan Harsono Tjokroaminoto.
Menurut Soebagijo, wartawan dulu dan sekarang memang berbeda. Wartawan
sekarang umumnya punya latar belakang pendidikan memadai. Kesejahteraan
wartawan sekarang relatif lebih baik, memperoleh persiapan cukup, dan
berbeda dengan dulu yang umumnya dilandasi semangat patriotisme perjuangan
dan otodidak. Dulu, hubungan sesama wartawan tak ada kesan hubungan ‘buruh
dan majikan’. Bimbingan yang diberikan oleh senior pun dia rasakan amat
bersahabat. Tidak ada kesan menggurui. Wartawan sekarang? "Anda lebih tahu,"
katanya.
Sepenggal kenangan perjalanan hidup
Profesi Jurnalis, sejak kecil sudah jadi kesenangan sekaligus cita-cita
pria kelahiran 5 Juli 1924 di Blitar ini. Bakatnya itu akhirnya
menuntunnya menjadi seorang penulis handal. Walaupun ayahnya, Ilham
Notodidjojo, guru sebuah sekolah rakyat di Blitar serta ibundanya yang
juga seorang guru selalu mengarahkannya menjadi guru, namun itu tidak
mampu mengobah keinginannya yang sudah bulat.
Jurnalistik, tumbuh dalam jiwanya sejak anak-anak ketika ia sering disuruh
sang ayah mengambil koran dari teman-teman ayahnya, --yang berlangganan koran
tersebut secara patungan, sebab dulu berlangganan koran itu biasanya patungan,
dimana empat orang atau lebih membeli satu koran, dengan perjanjian siapa
yang baca duluan harus membayar lebih besar. Dari pengalaman setiap hari
mengambil koran itu, ia akhirnya jadi sering baca sebelum memberikannya
kepada sang ayah. Sejak itu, ia mulai mengetahui tokoh-tokoh nasional
maupun internasional dan berbagai peristiwa di dunia. Lama-kelamaan ia
semakin tertarik dengan dunia jurnalistik tersebut. Ia mulai membayangkan
begitu senangnya menuliskan sesuatu yang kemudian akan dibaca orang.
Maka sejak sekolahpun ia sudah mulai menulis. Ia mulai menulis di Taman
Bocah (Kejawen) Jakarta dan di Taman Poetra (Swara Tama) Yogyakarta. Dan menulis buku
dilakukannya ketika usia 25 tahun. Waktu itu, ia
masih harus diantar sang bundanya. Buku pertama yang ditulisnya adalah
buku biografi ibunya Bung Karno (Presiden RI pertama), buku yang diberinya
judul ‘Pengukir Soekarno"
Pria yang menghabiskan lebih dari dua pertiga usianya dalam dunia pers dan
jurnalistik ini, anak ketiga dari 5 bersaudara dan dibesarkan dalam
lingkungan Muhammadiyah. Sejak kecil sudah aktif berorganisasi seperti di
Pemuda Muhammadiyah dan Pandu Hizbul Wathon. Dan di masa revolusi ia juga
menjadi anggota PB Ikatan Pelajar Indonesia dan pucuk pimpinan Gerakan
Pemuda Islam Indonesia di Yogyakarta.
Jepang yang menduduki Indonesia setelah Belanda, bertindak menutup semua
sekolah-sekolah peninggalan Belanda. Tapi Sekolah Muhammadiyah Yogyakarta
dimana kala itu ia sekolah kelas 4, tidak ikut ditutup.
Tidak lama kemudian, Jepang mendirikan Sekolah Guru Laki-laki di Blitar.
Ia kemudian pindah ke Blitar untuk mengikuti sekolah guru tersebut. Di
sana ia langsung kelas 4 karena sebelumnya ia juga sudah kelas 4 di
Muhammadiyah Yogyakarta. Maka setelah enam bulan sekolah, ia pun langsung
tamat. Lalu ia sempat mengajar, tapi hanya tiga bulan.
Selanjutnya ia mengikuti Kotoo Shihan Gakkoo yaitu Sekolah Guru Tinggi
yang juga didirikan Jepang. Waktu itu ia sudah aktif menulis di berbagai
media seperti di Pandji Pustaka misalnya. Sehinggga untuk membiayai
sekolah, ia bisa tutupi dari hasil tulisannya. Di kemudian hari,
anak-anaknyapun semua berhasil disekolahkan dari hasil menulis buku.
Pria yang pada awal revolusi 45 sudah memimpin redaksi Api Merdeka, ini
pada usia 22 tahun, tepatnya pada tahun 1946, masuk menjadi wartawan di
Kantor Berita Antara di Yogyakarta. Namun sekitar tahun 1948 kantor
‘Antara’ di daerah termasuk Yogyakarta sempat ditutup karena Belanda
menduduki ibukota RI itu.
Ia yang termasuk sebagai orang-orang pertama di ‘Antara’ diminta bergabung
ke Kantor Berita Antara Jakarta. Namun karena saat itu ia juga aktif
menulis di berbagai media daerah, maka ia memilih tetap di Yogyakarta dan
akan mensuplai berita dari Yogyakarta ke Kantor Berita Antara di Jakarta.
Dalam kurun waktu tersebut, yakni pada tahun 1949, ia menjadi Pemimpin
Redaksi Panyebar Semangat. Namun karena merasa tidak bisa lagi bekerja
sama dengan pemimpinnya, akhirnya ia mengundurkan diri pada tahun 1957.
Selanjutnya, ia berangkat ke Jakarta dan bergabung dengan ‘Antara’.
Selama bekerja di Kantor Berita Antara, banyak pengalaman berkesan
didapatnya. Suatu ketika ia bersama enam orang lainnya dari berbagai media
di Indonesia pernah diberangkatkan ke PBB di New York, Amerika Serikat. Perjalanan ini kemudian
sangat banyak membumbui kenangan perjalanan hidupnya.
Sebulan di sana sesuai dengan jadwal perjalanan mereka ketika itu, mereka
hendak pulang ke Indonesia. Tapi sebelum berangkat, mereka dihubungi oleh
pihak Amerika yang mengatakan bahwa mereka diperbolehkan berkeliling ke
seluruh Amerika, boleh menulis apa saja, mengkritik juga boleh tanpa
dihalangi dan dipandu. Akhirnya mereka memperpanjang waktu perjalanan di
Amerika. Namun mereka tinggal enam orang saja karena satu orang di antara
mereka harus pulang mengingat begitu penting tugasnya sebagai pemimpin di
medianya.
Dalam kesempatan itu, ibarat orang Amerika datang ke Indonesia, tidak akan
merasa lengkap jika tidak ke Bali, maka ia pun sebagai orang Jawa pergi ke
Amerika, tidak merasa lengkap jika tidak melihat Hollywood dan yang
lainnya. Sehingga ia pun pergi ke Hollywood, terus ke Chicago, San
Fransisco dan tempat lainnya. Dalam perjalannya itu jugalah ia melihat
gerejanya kaum ‘Mormon’ yaitu sekte agama Kristen yang membenarkan adanya
poligami. Gereja yang besar sekali, di sana ada organ yang kalau tuts-nya
ditekan, bunyinya sampai ke belakang.
Mereka juga pergi ke lokasi-lokasi atau daerah orang kulit hitam,
berbicara dengan hakim-hakimnya, tokoh-tokohnya maupun rakyatnya. Di sana
mereka sengaja tinggal dan menginap di hotel kelompok masyarakat tersebut
agar bisa bicara lebih dekat. Karena waktu itu, diskriminasi masih kental
di Amerika. Hunian kulit hitam masih dipisah dengan hunian kulit putih,
sekolah juga demikian, hotelnya harus tersendiri karena tidak boleh
menginap satu hotel dengan kulit putih, bahkan ada restoran yang tidak
bisa didatangi kulit hitam.
Selesai melakukan perjalanan itu, ia pun hendak pulang ke Indonesia. Tiket
Jakarta-New York bolak balik sebelumnya sudah ada. Ia hanya berpikir
apakah sebaiknya lewat Pasifik atau Atlantik. Dalam pikirannya, kalau
melalui Atlantik, ia bisa melihat banyak negara-negara Eropa, sedangkan
kalau lewat Pasifik, ia paling-paling bisa melihat Jepang, Hongkong,
Philippina, dan Singapura. Akhirnya ia memutuskan pulang melalui Atlantik.
Kenyataannya memang begitu, ia bisa ke Berlin, Wina, Paris, Roma, Jenewa
dan lain-lainnya hingga sampai di Kairo. Di Kairo ia singgah ke KBRI Kairo
sebagaimana selalu ia usahakan setiap menyinggahi suatu negara. Ia selalu
melakukan itu karena dalam pikirannya, kalau terjadi apa-apa, nanti bisa
cepat diatasi.
Di Kairo, ia bertemu dengan seorang tentara Indonesia yang ternyata mantan
kakak kelasnya di Sekolah Guru Tinggi dulu. Waktu itu kakak kelasnya itu
sudah berpangkat Mayor dan menjadi perwira keuangan pada Pasukan Garuda I,
yaitu Tentara RI yang bergabung dengan Pasukan PBB.
Mantan kakak kelasnya tersebut mengajaknya ke markasnya dan menghadap
komandannya. Karena ia merasa orang bebas, maka kemanapun diajak, ia mau
saja. Akhirnya ia ikut bergabung dengan Pasukan Garuda I. Karena pada
waktu itu orang asing sipil tidak dibenarkan memasuki daerah Gaza Street (sekarang
Jalur Gaza), maka ia memakai pakaian tentara PBB. “Jadi saya pernah
menjadi pasukan PBB gadungan, padahal saya nggak ada potongan tentara,”
katanya mengenang.
Waktu itu, teman-temannya yang bergabung dalam Pasukan Garuda I itu sudah
sibuk hendak menunaikan ibadah haji. Ia mengatakan, seandainya ia juga
ingin menunaikan ibadah haji, melalui PBB itu juga, insya Allah dibenarkan.
Karena bukan saja tempatnya relatif sudah dekat, tapi juga masih atas
fasilitas PBB. Ketika itu ia mengaku bahwa hatinya belum tergerak. Tapi
begitu kembali di Bumi Pertiwi (ketika itu masih tinggal di Kemayoran),
hatinya baru tergerak. “Ya Allah Tuhanku, kenapa aku tidak ikut ibadah
haji, padahal fasilitas sudah ada, tempat sudah dekat,” katanya menyesali.
Lalu saat itu ia pun berikhtiar, “Nanti kalau saya ada kesempatan keluar
lagi, musti menunaikan haji”.
Dalam perjalanan pulang itu, ia juga punya pengalaman yang belakangan
diakuinya sebenarnya agak konyol. “Sewaktu akan menyeberang Laut Merah,
banyak orang-orang mengacungkan tangan sambil minta tolong, ‘one piaster
please’, minta satu piaster atau kira-kira satu sen di Indonesia. Saya
pikir waktu itu, mungkin Presiden Nasser akan malu kalau melihat rakyatnya
minta-minta pada orang asing. Eh…begitu aku sampai Jakarta, di Pasar Baru
juga banyak orang-orang Indonesia yang minta-minta pada orang asing. Kalau
turis asing itu berpikir sama dengan aku mungkin mereka akan mengatakan,
Wah… Soekarno akan malu melihat rakyatnya minta-minta pada orang luar
seperti ini,” katanya menyadari kepolosannya waktu itu.
Kembali pada cerita mengenai kepulangannya dari Amerika, dimana ketika itu
ia memilih lewat Atlantik. Saat itu ia berpikir tidak lewat Pasifik karena
kalau dari sana ia paling melewati Jepang dan lainnya. Jepang itu dekat,
lain kali kalau ada kesempatan sudah lebih gampang, begitu dalam
pikirannya. Keinginannya itupun akhirnya Tuhan kabulkan 34 tahun kemudian,
persisnya pada tahun 1991.
Kepergian ke Jepang ini pun menurutnya, juga karena alasan yang agak
istimewa. Waktu itu ada sarjana dari Jepang mau mengadakan riset. Sarjana
Jepang ini datang pada Pak Sumanang menanyakan soal pers. Karena merasa
tidak banyak lagi yang diingat, Pak Nanang tersebut meneleponnya,
menanyakan apakah bersedia menangani. Ia menyetujui dan kemudian menyuruh
orang Jepang itu datang ke kantornya. Setelah berkenalan, Sarjana Jepang
tersebut mengutarakan keperluannya yang mau mencari data tentang pers.
Karena memang di kantor tersebut tidak ada, maka ia kemudian mengajak
orang Jepang tersebut ke rumahnya di Jalan Danau Tondano RP 1. Begitu
sampai ke rumahnya, orang Jepang itupun melihat penyimpanan buku-bukunya
sambil geleng-geleng kepala, kagum. “Sudah saya cari di mana-mana tidak
ada, rupanya di RP 1 ada,” begitu kira-kira ucapan orang Jepang tersebut
mengakui lengkapnya penyimpanan data pers Soebagijo.
Setelah pulang kembali ke Jepang, mereka tetap korespondensi. Di kemudian
waktu, orang Jepang itu datang lagi ke Indonesia dengan istri dan anaknya.
Mereka akhirnya menjadi sahabat. “Dia mentraktir saya di restoran Jepang,
kemudian saya mentraktir dia di restoran Jawa Timur karena saya orang Jawa
Timur. Dia sekeluarga, kami juga sekeluarga,” katanya mengenang.
Ketika itulah, sahabat Jepangnya itu memperkenalkan ketua mereka yang juga
dari Jepang, dan mengatakan, “Ini Kepala Japan Tosi shin, dia pimpinan saya,
dia sebentar lagi pensiun. Tapi sebelum pensiun, saya minta agar
mengundang Pak Bagijo ke Jepang. Bagaimana, bersediakah Bapak?” Menanggapi
pertanyaan sahabatnya itu, Soebagijo merasa senang dan langsung mengatakan
kesediaannya.
“Itulah, Tuhan itu memberikan banyak pada saya. Sampai sekarang sudah tua,
Insya Allah tahun ini 80 tahun. Sudah siap mendapat panggilan, any time,
sudah monggo. Meskipun ada beberapa keinginan saya yang entah masih
diberikan Allah seperti ingin menyeberangi antara Asia Timur dengan Eropa,
juga ingin naik kereta api di bawah laut, atau kereta api Trans Siberia.
Tapi entah kapan,” ujarnya.
“Begitulah kuasa Tuhan dalam hidup saya. Kalau saya manut saja. Seperti
ketika menginjak gedung PBB, saya berucap, “Ya Tuhanku, Engkau Maha Agung
dan Maha Besar. Anak ibuku kok sampai disini”. Ayah-ibuku hanya guru,
bukan pamong praja, bukan apa-apa,” katanya lagi memuji kuasa Tuhan yang
telah memberinya banyak kenangan yang sangat jarang dialami orang lain.
Mengingat semua kemudahan yang diterimanya dari Tuhan, maka ketika di
Berlin, ia sampai-sampai menyempatkan menulis surat kepada orang tuanya.
Dalam suratnya ia mengatakan, “Pak! Di mana-mana saya selalu mendapat
pertolongan, padahal saya ini cuma ‘mengunduh’ tanaman yang Bapak dan Ibu
tanam.”
Dan begitu ia kembali ke Indonesia kemudian sowan pada bapak dan ibunya,
ia mengulangi lagi. “Pak! Saya ini di antara lima anakmu, saya yang di
mana-mana dapat bantuan, ini saya merasa hanya sekedar ngunduh tanaman yang
bapak tanam,” katanya. Sang bapak kemudian mengatakan, “Nah, maka kamu
sendiri harus pandai menanam”. Itulah ucapan sang bapak
yang menurutnya merupakan salah satu wasiat dari orangtuanya tersebut.
Namun di balik semua perjuangan hidupnya, satu kali ia juga pernah merasa
tidak puas dengan keadaan yang dia terima. Ia merasa hidupnya hanya
begitu-begitu saja sementara teman-temannya satu tim sudah ada yang
menjadi menteri seperti Pak Martono dan Sunawar. Ada juga yang jadi
usahawan, anggota DPR, maupun Jenderal. Namun sebagai Muslim yang soleh ia
tidak merengut, tapi ia sujud atau tahajud pada Tuhan, ia dialog,
“Teman-temanku sudah menjadi menteri, usahawan dan pada kaya Tuhan. Aku ini
kok begini saja Tuhan,” ia seperti memprotes, tindakannya ini ia tahu
merupakan suatu hal besar.
Karena ia melakukannya dengan khusuk, sehingga Tuhan mau memberinya
firasat. Satu malam, setelah sholat malam, ia diberi impian oleh Tuhan.
Dalam mimpinya ada orang berbaju putih, bawa baskom berisi beras yang
putih bersih. Baskom berisi beras itu diberikan padanya. Ia terperangah,
mau tidak mau ia pun menerima. Setelah bangun, ia biasa saja. Kemudian ia
tanyakan pada teman yang ia anggap mengerti. Temannya mengatakan bahwa itu
berarti pertanda keberuntungan. Diartikan begitu, ia malah bertanya,
“Dikasih itu saja kok dibilang beruntung?” Temannya memberitahunya, bahwa
kalau Tuhan beri sebanyak itu berarti itu sudah cukup. Dan beras putih itu
berarti halal. Dengan pengertian begitu, dalam hati ia berpikir, “Kalau
begitu sudahlah”. Dan nyatanya, diakuinya bahwa sampai usia 80-an ini ia
tetap sehat, tidak kekurangan walaupun tidak kaya.
Membandingkan dengan perilaku kebanyakan pejabat sekarang ini, ia merasa
sangat prihatin. “Sekarang ini malu kita melihat korupsi-korupsi itu, di
mana-mana, sampai ke daerah-daerah asalnya para kyaipun tidak malu lagi
untuk korupsi,” katanya.
Kariernya di Kantor Berita Antara, pernah memegang perwakilan Kantor
Berita Antara di Yugoslavia, yakni pada tahun 1966-1968. Jadi ia hanya dua
tahun menjabat di sana. Sebelumnya, ia memang direncanakan empat tahun
menjabat di sana, tapi karena pemerintah kekurangan finansial, maka
perwakilan ‘Antara’ yang di New Delhi, Beograd dan lainnya ditarik oleh
pemerintah. Ketika itu, ia menjadi Ketua Jemaah Pengajian Indonesia di
Beograd.
Bekerja di Beograd inilah sehingga ia bisa mewujudkan ikhtiarnya yang
musti menuaikan haji. Sebelas tahun setelah ikhtiarnya itu,
akhirnya Tuhan kabulkan pada kesempatan itu yaitu pada tahun 1968. Maka sebelum pulang
ke tanah air ia lebih dulu kirim surat kepada
pimpinannya di Jakarta yang isinya memohon agar sebelumnya, diijinkan
terlebih dahulu menunaikan ibadah haji. Permohonannya itupun dikabulkan
atasannya.
“Jadi saya rasakan, Tuhan itu begitu memanjakan saya. Kemanapun saya jalan,
Tuhan selalu memberikan kemudahan, tidak usah jumpalitan minjam, atau
harus sikut sana sini,” katanya mensyukuri nikmat dari Tuhan.
Sepulang dari Beograd tahun 1968, ia menjabat Kepala Perpustakaan dan
Dokumentasi LKBN Antara sampai pensiun pada tahun 1981. Jabatan sebagai
Kepala Perpustakaan dan Dokumentasi LKBN Antara itulah katanya, yang
mempermudah dorongan jiwanya dalam mengumpulkan berbagai data mengenai
pers, kemudahan tersebut terutama karena di LKBN tersedia bahan-bahan
pustaka sehingga tak perlu terlalu banyak keluar kantor.
Setelah pensiun, dia masih tetap aktif menulis di berbagai surat kabar dan
majalah. Menerjemahkan sejumlah kisah roman, menyadur aneka ragam cerita,
dan menulis biografi. Menurutnya, Djamaluddin Adinegoro, Ayat
Jayadiningrat (redaktur harian berbahasa Jawa, Ekspres) dan Prof Nugroho
Notosusanto merupakan tiga orang yang sangat berperan mendorongnya giat
dalam bidang tulis-menulis.
Keluarga
Siti Supiah kelahiran tahun 1930 yang menjadi pendamping hidupnya sejak 22
Mei 1961, itu dikenalnya berawal ketika seorang adiknya pernah mondok di
tempat ibu Supiah, sebab kedua-duanya (Siti Supiah dan adik perempuan
Soegbagijo -red) pernah menjadi mahasiswa di Gajah Mada -- Namun adiknya
gagal menjadi sarjana hukum dan Ibu Supiah juga gagal jadi dokter. Adiknya
yang kemudian bekerja di Jakarta mondok di rumah ibu Supiah. Ketika
Soebagijo berkunjung ke pondokan adiknya, di situlah ia dan Siti Supiah
awalnya berkenalan dan selanjutnya berteman.
Sebelum berencana lebih jauh, maka sebagai seorang Muslim, Soebagijo minta
petunjuk kepada Allah SWT. “Tuhanku! Kalau ia baik bagi aku, dan aku baik
bagi dia, patrikanlah kami dalam satu ikatan perkawinan yang Engkau ridhoi.
Tapi kalau ia tidak baik bagi aku, atau aku tidak baik bagi dia,
jauhkanlah kami satu dengan yang lain dan berilah kami hati yang ikhlas,”
begitu permohonannya saat itu.
“Jadi kalau saya punya rencana atau pemikiran yang agak mengganjal, saya
langsung menghadap pada Tuhan, meminta petunjuk dan arahan-Nya. Kalau kita
meminta secara khusuk dan baik, maka Tuhan akan memberikan isyarat-isyarat.
Dan ini juga begitu. Pada suatu malam, dalam mimpi Supiah, tangan saya
digandeng (dibuat bersalaman-red) di hadapan kedua orang tuanya. Saya
tidak tahu makna impian itu, tapi hatiku plong. Akhirnya, kami memang
berjodoh dan menikah,” tambahnya.
K.H. Nazaruddin Latief, Ketua Kantor Urusan Agama DKI Jaya ketika itu dan
kebetulan juga sebagai guru agama Islam para siswa Kotoo Shihan Gakkoo
yaitu Sekolah Guru Tinggi di Jl. Pegangsaan Timur 17 Jakarta di zaman
Jepang itu menjadi saksi pernikahan mereka.
Pada tahun 2004, suami-istri ini sudah dikaruniai 10 cucu, dan 2 buyut.
Sejak masih pacaran, menikah, kemudian membangun keluarga, Pak Soebagijo
selalu memanggil istrinya dengan sebutan mbok ratu. Menurut pengakuannya,
sebutan itu diambil dari kisah pewayangan dimana raja-raja biasa memanggil
istrinya dengan sebutan mbok ratu.
Dalam usianya yang sudah 80 tahun pada 2004, fisik tokoh jurnalis ini
masih masih terlihat fit. Ia masih cekatan layaknya usia 50-60-an. Ia
hanya mengeluhkan pendengarannya yang tidak sesehat dulu lagi. Namun
kebiasaannya berpuasa Senin-Kamis tidak lagi dilakukannya karena vertigo
dan pengeroposan tulang yang diidapnya. Kini puasa dilakukan hanya pada
bulan Ramadhan saja.
Sedangkan kiat ayah dari Budi Setiawan, Budi Sawitri, Budi Nastiti, Budi
Saraswati, Budi Widiastuti, Budi Prawitasari, ini agar bisa fit demikian
menurutnya adalah, bahwa orang-orang tua sebaiknya harus melakukan tiga
‘olah’ yaitu pertama olah raga. Kedua, olah jiwa yaitu pergi ke Mesjid
jika Muslim atau pergi ke Gereja jika Nasrani, atau yang lainnya. Ketiga,
olah pikir yaitu membaca, diskusi, sarasehan, kumpul dengan orang.
Di samping itu ia juga mengatakan, harus banyak ‘sayun’ yakni sayuran dan
buah-buahan. Ia mengatakan, bahwa anjurannya itu belum tahu benar atau
tidak, tapi ia mengakui bahwa itulah yang ia lakukan. Namun yang jelas, ia
memang sangat disiplin dalam memelihara kesehatannya, salah satu contohnya
adalah tidak pernah lagi mencoba rokok sejak puluhan tahun silam.
Bisa tidak merokok seperi sekarang, hal itu menurutnya mempunyai cerita
tersendiri. Pengakuannya, ketika masih sekolah guru kelas 4, ia sudah
merokok. Pada suatu saat ketika ia sedang merokok, ia terlihat oleh guru,
kemudian memanggilnya dan melaporkannya pada direktur. Direktur yang
kemudian mengajar di kelasnya berkata, “Kalian itu sudah kelas 4, jadi
sebagai calon guru, kalian itu adalah sebagai contoh bagi adik-adik
kelasmu. Tapi di antara kamu, tadi pagi ada yang dipanggil teman guru
karena merokok, itu salah satu contoh yang kurang baik. Saya tidak sebut
nama, tapi siapa yang merasa,” katanya menirukan ucapan direktur. Ketika
itu ia merasa, barangkali dia sendirilah yang dimaksud direktur tersebut.
Perasaannya waktu itu, bersalah sekali. Sehingga ketika lonceng berbunyi
pertanda pulang, ia tidak langsung pulang (siswa Sekolah Guru di zaman
Belanda & Jepang, tinggal di asrama) tapi sengaja berdiri sendirian
sejenak di kelas. Ia menyesali perbuatannya yang membuat nama satu
kelasnya rusak. Maka sejak itu ia pun berjanji selama hidup tidak akan
merokok lagi. “Alhamdulillah, puji Tuhan, sampai sekarang ini saya tahan
tetap tidak
merokok meskipun teman-teman banyak yang mengejek,” katanya.
Rumah mereka di jalan Danau Tondano RP-1 di daerah Pejompongan seluas 3x4m sudah ditempatinya sejak tahun 1961. Rumah itu tak begitu besar namun
berhalaman luas dan selalu bersih. Soebagijo secara rutin menyapu halaman
rumahnya. Meskipun hidup sederhana, Soebagijo tetap bersyukur.
Pria ini tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah SWT, terutama karena ia
masih bisa berguna bagi orang lain. Walau usianya sudah tua, ia masih
mengusahakan agar bisa memberi sedekah kepada para kaum papa yang sangat
mengharapkan uluran tangannya. “Saya bersyukur pada Tuhan, masih dipakai
menjadi kran walaupun hanya menghasilkan setetes, walaupun tidak bisa
seperti Mbak Tutut yang memberikan sembako satu kantong gitu,” katanya.
Berkaitan dengan makna hidup, ia sangat terkesan dengan ucapan Mohammad
Roem. Karena begitu terkesannya, ia menganggapnya sebagai wasiat. Ketika
itu, Mohammad Roem pulang dari Amerika dan ia sendiri pulang dari Beograd.
Mereka bertemu di Kairo dan sama-sama hendak menunaikan ibadah haji.
Mereka kala itu makan siang di rumah Iskandar Ranuwiharjo (abangnya Dahlan
Ranuwiharjo), yang menjabat sebagai atase militer waktu itu dan kebetulan
mantan kakak kelas Soebagijo di Muhammadiyah, Yogyakarta.
“Pak Bagijo! Tidak usah kita ini semua jadi pahlawan, jadi orang soleh
yang berguna bagi masyarakat sekeliling saja, itu sudah bagus. Nggak usah
untuk nusa dan bangsa, tapi untuk masyarakat sekeliling,” katanya,
mengulang ucapan Pak Roem ketika itu.
Begitu panjang kisah perjuangan dan kenangannya dalam menekuni profesi,
menghidupi keluarga, menyekolahkan anak hingga berhasil menyelesaikan
pendidikan tinggi, menunaikan ibadah haji. Perjuangannya menyekolahkan
anak sangat mengesankan. Ketika anak-anaknya sudah meningkat ke perguruan
tinggi menurutnya, secara logis kebutuhan komersilnya tidak mungkin
terbiayainya dengan mengandalkan gaji dari wartawan ‘Antara’ ketika itu.
Gaji seorang wartawan ‘Antara’, menurutnya, sekarang pun masih tidak seberapa sebab
belum dikelola sebagai industri, melainkan cuma berupa pengabdian dan
perjuangan. Namun Tuhan memberkahinya, dengan mendapat proyek dari Gunung
Agung, dengan begitu kebutuhan kuliah anak-anaknyapun bisa tertutupi.
“Begitulah, ada saja anugerah itu. Saya bilang pada isteri saya, “Kita
harus menabung apa yang bisa kita dapat sekarang ini. Namun begitu jugalah
Tuhan menghendaki, begitu kuliah anak-anak telah selesai semua dari UI,
Unpad, Gajah Mada, ITB dan lainnya, proyekpun selesai. Jadi Tuhan itu memberikan
sesuai kebutuhan saja,” katanya merenungi kehendak Sang Khaliq.
Kini, berbagi pengetahuan, pengalaman, menularkan ilmunya, merupakan
kesehariannya. Ia masih sering dijadikan narasumber (tempat bertanya) para
wartawan muda, mahasiswa dari berbagai kota yang ingin menyusun skripsi,
juga sejumlah sarjana dari dalam maupun luar negeri yang ingin menyusun
disertasi ataupun thesis. Dan yang paling sering adalah surat-menyurat
dengan sahabat-sahabatnya yang di luar negeri ataupun para teman di dalam
negeri seperti temannya ketika di Sekolah Guru Laki-laki di Blitar dulu.
"Dia orang sholeh yang sumeleh (sumarah pada kehendak Tuhan)," begitu kata
Jakob Oetama, pemimpin harian ‘Kompas’ mengenai Soebagijo Ilham
Notodidjojo ini pada suatu pertemuan di hadapan beberapa rekannya wartawan
kurang lebih 10 tahun yang lalu.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|