| |
C © updated 02072008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Rocky Gerung
Lahir:
8
Karir:
- Pengajar
Filsafat FIB UI
- Pendiri SETARA Institute
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Rocky Gerung
Antropologi Keyakinan
OPINI: Kegagalan melembagakan demokrasi, atau paling tidak
ketiadaan orientasi ide untuk menuntun pelembagaan itu, membawa
kecemasan politik bagi mereka yang berkehendak mewujudkan suatu
masyarakat terbuka.
Ruang politik yang kini membesar justru lebih terasa dihuni
pekerja-pekerja "politik identitas", yaitu mereka yang berjuang untuk
suatu cita-cita politik absolut, terutama karena mendasarkan perjuangan
politik pada doktrin keagamaan.
Lebih karena keyakinan final tentang "moralitas politik" agama, yang
sebagian merupakan lanjutan obsesif dari perdebatan tentang dasar negara
pada awal pendirian RI, politik identitas itu memperoleh reperkusi
historisnya dari perkembangan sejenis di dunia internasional.
Globalisasi tidak dipandang oleh politik identitas sebagai sarana
percaturan ide-ide global, tetapi dimusuhi sebagai penghalang
pelaksanaan keyakinan politik agamais. Fundamentalisme pasar berhadapan
dengan fundamentalisme nilai, tidak di dalam upaya sintetik untuk
mencapai stabilitas relatif sistem dunia modern, tetapi berhadap-hadapan
dalam pertarungan kategoris tentang kebenaran absolut. Globalisasi
secara kategoris dirumuskan sebagai sumber penghancuran peradaban,
sementara agama, dalam versi konservatifnya, diajukan sebagai solusi
satu-satunya peradaban baru.
Kendati kontrapolasi itu mengandung banyak kepalsuan, mengingat begitu
seringnya kohesifitas keagamaan terbelah karena persaingan politik dalam
kelompok itu sendiri, namun nada umum politik global memperdengarkan
disharmoni politik antara pendukung etika kosmopolitan dan pembela
logika politik akhirat.
Dalam jargon clash of civilization, tersimpan psikologi absolut dari
persaingan politik global. Nilai-nilai absolut telah melampaui
parameter-parameter konvensional politik dunia. Gejala ini cukup
kasatmata: akumulasi kapital dan teknologi bukan lagi nilai utama yang
dikejar, tetapi sekadar alat untuk mewujudkan suatu impian ideologi yang
absolut. Dalam praktik terorisme mutakhir, prinsip ini bekerja amat
sempurna.
Konstruksi historis global inilah yang kemudian menjadi latar
perkembangan politik identitas di Indonesia sekarang ini.
Namun, sumber-sumber politik identitas itu juga memiliki akar-akar
lokal. Memang kondisi otoritarianisme Orde Baru telah menghambat
artikulasi kultural dari politik identitas itu, melalui teknik-teknik
politik korporatisme, kooptasi, dan represi. Ekonomi Orde Baru telah
berfungsi memoderatkan penyebaran sosial dari politik identitas, melalui
monetisasi kehidupan umum, dan berbagai insentif kesejahteraan umat.
Namun, antropologi bangsa ini rupanya memang kuat bertumpu pada
antropologi keyakinan, yaitu kecenderungan untuk memandang kehidupan
secara ideologis, secara absolut. Akibatnya, penampilan ulang politik
identitas justru menjadi-jadi ketika politik mengalami keterbukaan
maksimal dan ekonomi mengalami penurunan total.
Kontrak sosial demokrasi
Kita tentu tidak ingin kembali pada suasana otoritarian karena jaminan
terhadap demokrasi tidak di dalam rangka tukar tambah politik dengan
larangan terhadap politik identitas. Yang ingin kita upayakan adalah
suatu kerangka kerja demokrasi yang mampu menghargai kondisi
antropologis bangsa ini, sekaligus mampu mengembangkan kultur kritisisme
individu dalam kebudayaan politik, yaitu kultur yang secara sosial dapat
mencegah perwujudan-perwujudan absolut dari tuntutan- tuntutan politik
identitas itu. Kultur semacam itu pertama-tama dimaksudkan untuk
mendorong pertukaran kepentingan di antara warga negara, berdasarkan
prinsip bahwa politik adalah gejala temporer yang harus lepas dari
obsesi-obsesi permanen.
Kita telah memilih demokrasi. Memilih menjalankan politik majemuk.
Memilih melaksanakan hak asasi manusia. Karena itu, kita harus menerima
konsekuensi tertinggi, yaitu kemajemukan harus menghasilkan
kesementaraan tujuan. Tidak ada finalitas dalam kemajemukan. Demokrasi
tidak mungkin mensponsori suatu pandangan politik tunggal.
Demokrasi adalah jaminan rasional terhadap keragaman tujuan hidup
individual. Dengan cara itu, hak asasi manusia dapat diselenggarakan
secara maksimal. Karena itu, hal maksimal yang dapat disediakan
demokrasi adalah fasilitas konstitusi untuk konsensus sekuler di antara
berbagai kepentingan temporer. Inilah kontrak sosial sesungguhnya dalam
kehidupan publik, yaitu bahwa jarak politik antara warga negara hanya
boleh diukur berdasarkan ayat-ayat konstitusi, dan bukan dengan
ayat-ayat suci.
Menerima pluralisme berarti menerima etika politiknya, yaitu bahwa semua
obsesi politik yang absolut, yang mengejar finalitas, hanya boleh
dipraktikkan di wilayah privat. Ini bukan diskriminasi dalam demokrasi,
tetapi konsekuensinya.
Artinya, sejauh "politik identitas" hanya bermaksud artikulatif, maka
sistem demokrasi harus menampung dan memperlakukannya sebagai politics
of difference, yaitu suara marjinal yang harus dilindungi. Namun, begitu
ia mulai bermaksud akumulatif, yaitu berupaya menghomogenkan ruang
publik dengan mengintrodusir prinsip-prinsip politik absolut, demokrasi
harus segera menolaknya karena ia mengancam prinsip dasar demokrasi itu
sendiri: ruang publik tidak boleh dirumuskan secara final. Ia harus
bebas dari obsesi-obsesi absolut.
Ruang politik adalah ruang relatif, ruang falibilis, ruang profan.
Itulah sebabnya kita mendaur ulang politik setiap lima tahun. Namun,
kita tidak membuat pilkada untuk Tuhan. (Kompas Senin, 29 Mei 2006) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
|
|