| BERITA |
|
|
 |
Rocky Gerung
Bersama Kita Bisa, Berpisah Pun Biasa
Mana lebih penting bagi presiden: membuat lagu atau menurunkan harga,
menonton film atau menambal jalan? Kesulitan ekonomi adalah fakta sosial
yang makin mengkhawatirkan. Fakta itu boleh saja dibantah oleh statistik
resmi pemerintah. Tetapi, keluhan rakyat sehari-hari tidak dapat
dibantah dengan metodologi apa pun.
Kelompok oposisi memang mengeksploitasi isu ini dan pemerintah terlihat
kalap menghadapinya. Presiden agaknya lebih terfokus pada upaya menjaga
keseimbangan politik dengan parlemen ketimbang bekerja untuk pemulihan
ekonomi.
Publik memang mengetahui ada pembagian kerja antara presiden dan wakil
presiden. Soal ekonomi menjadi urusan wapres. Tetapi, bukankah wapres
juga adalah ketua umum sebuah partai politik? Dapatkah kebijakan ekonomi
dikerjakan sepenuh-penuhnya secara teknokratis dan tidak ikut
dikendalikan oleh kepentingan partai? Kendati koordinasi ekonomi secara
formal ada di tangan Menko Perekonomian, kedudukan politik wapres tentu
amatlah menentukan.
Dalam konstruksi semacam itu, tim ekonomi kabinet seperti terbelah dalam
dua rasionalitas: politik dan ekonomi. Gejala ini sudah tampak pada
berbagai kebijakan yang sebetulnya melanggar rasionalitas ekonomi,
tetapi tetap harus ditempuh karena instruksi politik. Kita dapat
membayangkan kesulitan psikologis para menteri di bidang ekonomi karena
mengalami political schizophrenia semacam itu.
Konvensi parlementarian
Sinisme politik tertinggi dari situasi ini adalah: kabinet siapakah
sesungguhnya yang ada sekarang ini? Di dalam latar konstelasi politik
parlemen, jelas bahwa kendali politik lebih ditentukan oleh Wapres.
Karena itu, ia tampak percaya diri. Sebaliknya, presiden terlihat masih
terus sibuk dengan ”konsolidasi politik”-nya.
Dan, untuk itu ia memerlukan ”politik pesona”. Padahal, sejak awal ia
telah memperoleh legitimasi luar biasa dari sistem presidensial.
Kekeliruannya adalah ia terlalu khawatir dengan basis dukungan Partai
Demokrat yang memang kecil, dan karena itu ia terus bermanuver dalam
tema ”konsolidasi politik”. Ia lupa bahwa konsekuensi dari sebuah pemilu
langsung telah memberi dia dasar legitimasi yang amat kokoh.
Kekhawatiran itulah yang dimanfaatkan oleh parlemen untuk tampil
overpowering sehingga kita sekarang berada dalam sistem pemerintahan
presidensial, tapi dengan ”konvensi politik parlementarian”. Inilah
konstruksi politik yang melatari semua kekacauan dan kerumitan hubungan
politik antara presiden dan parlemen selama ini.
Puncak dari kekacauan ini adalah peluang politik parlemen untuk
meneruskan hak interpelasi menjadi pintu masuk untuk pemakzulan. Kita
tentu menginginkan suatu keteraturan politik dan berusaha melembagakan
suksesi melalui Pemilu. Tetapi, politik adalah soal urgensi kepentingan.
Itu berarti suatu spekulasi tentang impeachment tetap harus masuk dalam
kalkulasi politik presiden. Apalagi situasi ekonomi yang buruk dapat
dieksploitasi sebagai isu kegagalan kebijakan.
Kalkulasi semacam ini tentu memerlukan lagi ”konsolidasi politik”
presiden, yang dalam realitas politik berarti negosiasi dan tukar tambah
kekuasaan dengan partai-partai utama di parlemen. Gambaran tentang
tukar-tambah politik ini akan segera kita lihat, misalnya, dalam rotasi
kursi kabinet pascapemilihan Gubernur BI nanti. Transaksi politikkah
yang akan diutamakan presiden atau kepentingan perbaikan ekonomi?
Berkali-kali hak prerogatif presiden itu diingatkan oleh para analis,
tetapi berkali-kali juga kita menyaksikan kekhawatiran presiden untuk
mengambil keputusan otonom. Pola ”konvensi parlementarian” itu agaknya
telah menjadi bayangan menakutkan bagi presiden.
Sebetulnya gejala overpowering parlemen itu punya aspek positif bila
mutu etis parlemen cukup tinggi. Artinya, overpowering itu
sungguh-sungguh menunjukkan niat etis para politisi untuk memajukan
kualitas demokrasi melalui kontrol politik yang rasional dan
institusional. Tetapi, sayangnya perangai politik parlemen juga belum
bebas dari perilaku koruptif.
Karena itu, overpowering itu lebih tampak sebagai peralatan transaksi
bisnis. Faktor inilah yang justru mencemaskan kita, yaitu bila presiden
terus bernegosiasi dalam transaksi yang lebih berbasis bisnis ketimbang
etis. Tidak ada pelajaran politik bermutu yang perlu dilanjutkan dalam
pola itu karena ia hanya memperlihatkan semacam pameran kecengengan di
satu pihak dan kepongahan di pihak lain.
Defisit legitimasi
Akan tetapi, bagaimana mengoreksinya? Pemilu sudah dekat. Dan Presiden
masih percaya pada pesona pribadinya. Survei- survei publik memang masih
memperlihatkan ”keunggulan popularitas” Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. Itulah satu-satunya dasar pesona politik pemerintah. Tetapi,
opini publik bukan dasar legitimasi politik. Opini publik seperti yang
”terjaring” dalam survei sering sekadar jawaban kelas menengah yang
bersifat ”harapan” terhadap perbaikan, dan bukan ”dukungan” terhadap
pemerintahan.
Jawaban itu juga bisa dipengaruhi oleh situasi umum politik yang memang
belum memunculkan ”figur pemimpin alternatif”. Dalam situasi kesulitan
ekonomi sekarang ini, spekulasi tentang ”masa jabatan kedua” SBY pada
2009 menjadi skenario pesimistis. Ia akan terus dirongrong oleh politik
parlemen yang ia akomodasi sejak awal. Pola itulah yang secara konstan
membuat legitimasinya defisit.
Apakah arti analisis ini? Artinya, Presiden SBY sampai hari ini
sebetulnya belum memerintah. Ia masih melakukan ”konsolidasi politik”.
Sebaliknya, Wapres Jusuf Kalla sudah lama memerintah. Pemilu masih
setahun lagi, tetapi kita sudah tahu isi kampanyenya: ”Bersama Kita Bisa,
Berpisah Kita Biasa”. (KOMPAS, Sabtu, 5 April 2008) ►ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
|