| |
C © updated 15082008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Biodata
Nama:
Nidalia Djohansyah Makki
Lahir:
Jakarta, 19 September 1959
Suami:
Drs. Teuku Saiful Hayat, Msi
Anak:
Osrinikita Zubhana, Osrithalita Gabriela, Osritrivia Callista,
Muhammad Osribillal
Pendidikan:
TK Trisula I, SDN Teladan, SMPN II, SKKA Negeri (semuanya di
Bandar Lampung), Akademi Sekretaris AISI (Jakarta), Boumeville College,
Birmingham (Inggris).
Pekerjaan:
- Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PAN
- PT Multi Argo Corp. PT Jacolintex, Majalah Tempo, Gelaga Mediatama,
Consultant Ruwa Jurai News, Tabloid Matarani, Anggota DPR RI
Organisasi:
Ketua Pemberdayaan Perempuan di DPW PAN Lampung (1998)
|
|
| |
|
|
|
|
| NIDALIA HOME |
|
|
 |
Nidalia Djohansyah Makki
Perempuan Lebih Peka dan Responsif
Anggota Komisi II DPR RI (Fraksi PAN) dari daerah
pemilihan Lampung ini seorang politisi perempuan yang perannya terbilang
menonjol di
Senayan. Alumni Boumeville College, Birmingham, Inggris, kelahiran
Jakarta, 19 September 1959, ini amat peka dan responsif terhadap berbagai masalah yang
menyangkut hajat hidup masyarakat. Dia juga selalu memegang
prinsip kodratnya sebagai seorang ibu.
Menurutnya, politisi perempuan memiliki banyak kelebihan, terutama lebih
peka dan responsif dibanding umumnya politisi pria.
Seorang politisi, menurutnya, harus peka dan responsif terhadap berbagai
masalah yang dihadapi masyarakat yang diwakilinya. Dan, perempuan
memiliki kelebihan di bisang itu. Namun, dia menyayangkan masih belum
banyak perempuan mengabdikan diri sebagai politisi. Laki-laki masih
mendominasi dunia politik. Sehingga, banyak hal yang telah digagas
perempuan kurang berhasil mengingat jumlah mereka yang berjuang di jalur
politik relatif sedikit.
Tapi syukurlah, kata Nidalia, peran perempuan untuk berkiprah di bidang
politik kian terbuka lebar. Hal ini terjadi seiring tumbuhnya kesadaran
mengenai pentingnya peran perempuan dalam politik, serta bermunculannya
politisi perempuan yang membuktikan kemampuannya di bidang yang satu ini.
“Syukurlah, sekarang pun telah ada undang-undang (UU) yang menegaskan
perihal ketentuan (minimal) 30 persen keterwakilan perempaun di bidang
politik, khususnya di tingkat kepengurusan partai politik dan legislatif,”
tandas Nidalia.
Nidalia berharap, keterwakilan perempuan 30 persen nantinya tidak hanya
berlaku di tingkat kepengurusan partai dan di legislatif. Akan tetapi,
juga di eksekutif. “Kita mendorong agar keterwakilan mereka benar-benar
diperhatikan mengingat banyak perempuan yang lebih pintar, cerdas, dan
berprestasi,” harapnya.
Nidalia terkenal gigih mendorong keterlibatan perempuan dalam
pengambilan keputusan, baik di legislatif maupun eksekutif. Dia telah
menulis banyak artikel tentang hal ini. Di antaranya, Dinamisasi Politik
Perempuan Sangat Urgent; Upaya Mendinamisir Perempuan untuk Pembentukan
Budaya Politik; Saatnya Kaum Perempuan Menentukan Sikap; Ingatkan
Potensi Perempuan; Energi untuk Kesetaraan Gender; dan Mengetuk Hati
Perempuan untuk Berani Tampil.
Menurut Nidalia, keterlibatan perempuan dalam kancah politik bukanlah
untuk gagah-gagahan, atau sekadar membuktikan bahwa kaum perempuan pun
bisa tampil di pentas politik.
Melainkan, karena kaum perempuan adalah
bagian dari warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk
membangun bangsa dan negara. Karenanya, Nidalia mengingatkan, di samping
mempersiapkan kemampuan intelektual, para perempuan yang berniat terjun
di dunia politik juga mempersiapan mental bahkan fisik.
Pasalnya, dalam
berkiprah di bidang politik akan ditemui berbagai kondisi yang
seringkali tidak mengenakan dan melelahkan, terlebih-lebih ketika
berpolitik di tingkat legislatif. Itulah sebabnya, dukungan dari
keluarga, terutama dari suami, mutlak dibutuhkan.
Tokoh perempuan ini menyampaikan pengalamannya. Menurut dia, banyak
sekali tugas-tugas kedewanan yang seringkali menguras energi. Dari mulai
mengikuti berbagai rapat, sidang, pertemuan-pertemuan, hingga melakukan
kunjungan kerja selama berhari-hari. Namun demikian, bagi penulis buku
“Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung” ini, semua itu merupakan
konsekuensi yang harus diterimanya sebagai anggota Dewan.
Di samping itu, alumnus Boumeville College, Birmingham, Inggris ini juga
kerap mengalami kondisi yang tidak mengenakkan hati. Sebagai contoh,
ketika dia dan rekan-rekan sekomisi memperjuangkan aspirasi yang
menyentuh langsung pada kepentingan rakyat, pemerintah malah sering
tidak menunjukan respon yang semestinya. Disinilah kesiapan mental
dibutuhkan.
“Contoh yang paling terasa yaitu kebijakan pemerintah dalam menaikkan
harga bahan bakar minyak (BBM). Rakyat miskin semakin menderita akibat
kebijakan itu. Sebab harga-harga kebutuhan pokok ikut naik.” Lanjutnya,
“Saya juga merasakannya karena kadang-kadang saya sempat belanja
langsung kebutuhan sehari-hari. Apalagi bagi perempuan yang memang
setiap hari berbelanja.” Nidalia menyimpulkan, “Kenyataan ini
membuktikan pula bahwa perempuanlah yang paling merasakan keterpurukan
ekonomi negara”.
Berdasarkan kondisi tersebut, keterlibatan peran perempuan di jalur
politik termasuk di level legislatif bahkan eksekutif, merupakan hal
yang amat penting dan kian dibutuhkan. Apalagi, kata perempuan yang
senang tampil modis itu, perempuan adalah tiang negara. Menurutnya,
perempuanlah yang memiliki kepekaan perasaan dan bisa lebih responsif
dalam memperjuangkan berbagai kepentingan rakyat, khususnya yang
memiliki variabel langsung dengan peran dan aktivitas sehari-hari
perempuan.
“Perempuan memiliki kepekaan emosional tetapi juga bisa bertindak tegas
dalam mengambil keputusan,” kata mantan Ketua Pemberdayaan Perempuan di
DPW PAN Lampung (1998) itu.
Penulis sejumlah artikel yang dimuat koran nasional dan lokal itu
menegaskan, para perempuan yang (akan) berkarir di bidang politik, tidak
boleh melupakan kodratnya sebagai ibu rumahtangga: istri dari suami dan
ibu dari anak-anak. Justru, dengan tetap melaksanakan kodratnya, peran
perempuan menjadi lebih istimewa. “Buat apa sukses di politik tapi
keluarga berantakan” terang Nidalia.
Prihatin Kampung Halaman
Meski lahir di Jakarta, istri dari Drs Teuku Saiful Hayat Msi ini adalah
putra Lampung. Ia menamatkan taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga
sekolah kejuruan di Bandar Lampung. Ia ke Jakarta ketika kuliah di salah
satu perguruan tinggi.
Sebagai putra Lampung dan anggota DPR RI yang terpilih dari provinsi itu,
Nidalia merasa prihatin dengan kampung halamannya.
“Saya prihatin melihat Lampung saat ini. Dulu, Lampung dikenal sebagai
penghasil lada dan kopi terbesar dan terkenal di dunia. Sekarang,
Lampung nomor sekian termiskin di Indonesia,” keluh Nidalia. “Sekarang,
jangankan untuk mengembangkan Lampung, untuk mengembalikan kekayaan
hasil bumi yang dulu menjadi kebanggaan itu, sudah tidak bisa.”
Ibu dari tiga putri dan seorang putra ini tentu tidak berdiam diri dan
hanya menyesali keadaan atas apa yang terjadi di Lampung. Dengan
kapasitasnya sebagai anggota DPR RI, Nidalia berupaya dalam
memperjuangkan kemajuan Lampung. Bahkan demi menampung aspirasi
masyarakat di sana, ia sering meluangkan waktu mengunjungi konsituennya.
Pada saat tertentu, Nidalia juga kerap memberi sekadar hadiah atau
bingkisan kepada mereka.
Guna menjaga kesinambungan komunikasi dalam menampung aspirasi
konstituen, serta mempererat hubungan dengan mereka, secara khusus
Nidalia telah membuka sejumlah “rumah aspirasi” dan “nomor telepon
khusus”.
Melalui “rumah aspirasi” dan “hot line” itu, Nidalia pun bisa
menerima berbagai harapan bahkan keluhan dari masyarakat untuk
disampaikan kepada pemerintah pusat. Nidalia menyadari, berkat dukungan
konstituenlah dirinya terpilih sebagai anggota DPR RI. Karenanya ia
tidak ingin melupakan jasa-jasa konsistuennya itu. ►mti/spn
|
|