| |
C © updated 08032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Biodata
Nama:
Kamir Raziudin Brata, MSc
Lahir:
Cirebon, 12 Desember 1948
Pendidikan:
- sarjana Pertanian IPB, 1974
- MSc Soil Physic dari University Western Australia, 1992
Karir:
- Dosen Konservasi Tanah dan Air, Fakultas Pertanian IPB, sejak
1978
- Dosen Ekologi Tanah, Fakultas Pertanian IPB, sejak 1994
- Lektor Kepala dalam mata kuliah Ekologi Tanah, Fakultas Pertanian IPB,
sejak 1998
Penelitian:
- Survei dan pemetaan tanah untuk Proyek Pembangunan Persawahan
Pasang Surut (P4S) di Jambi dan Sumatera Selatan
- Survei kemampuan lahan untuk proyek irigasi di Cisadane, Jawa Barat
(1973), Jatiroto, Jawa Timur (1974), Citarum, Jawa Barat (1993)
- Studi pengembangan pusat pembibitan di daerah transmigrasi Aceh,
Kalimantan Trngah, Irian Jaya, 1993-1994
Publikasi:
- Modifikasi sistem microcatchment untuk konservasi tanah dan air
pada pertanian lahan kering, 2004
- Pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa vertikal untuk pengendalian
aliran permukaan, erosi, kehilangan unsur hara dari pertanian lahan
kering, 1998
- Pengaruh penggunaan cacing tanah, sisa tanaman dan sistem pengolahan
tanah terhadap beberapa sifat tanah dan produksi tanaman kedelai pada
latosol, 1996
Alamat Kantor:
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB)
Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Telp : 0251-629354
Fax : 0251-629352
|
|
| |
|
|
|
|
| KAMIR RB HOME |
|
|
 |
Kamir Raziudin Brata
Pencetus Lubang Resapan Biopori
Melestarikan lingkungan hidup tak perlu teknologi yang sulit-sulit.
Berbagi kepada yang miskin juga tidak perlu menunggu kaya. Itu falsafah
Kamir Raziudin Brata yang sehari-hari mengajar mahasiswa di Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Kamir pula yang mencetuskan teknologi untuk melestarikan fauna tanah
dengan lubang resapan biopori (LRB). Dari fungsi meresapkan air ke dalam
tanah, LRB secara masif bisa mengurangi risiko banjir. LRB dibuat dengan
alat sederhana sehingga Kamir menyebut tidaklah perlu teknologi yang
sulit untuk melestarikan lingkungan.
Lalu, apa pula maksud dia, tak perlu menunggu kaya untuk berbagi dengan
mereka yang miskin?
Sebab, LRB bisa sekaligus menampung sampah organik. Dengan sendirinya,
orang pun dituntut memilah sampah nonorganik, yang kemudian dipungut
pemulung sebagai nafkah.
”Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi kepada para pemulung,” kata
Kamir sambil menunjukkan sebuah karung berisi antara lain kertas,
plastik, botol, dan kaleng di sudut halaman rumahnya. Dalam sepekan, isi
karung itu selalu habis dikuras para pemulung.
Liang biopori
LRB merupakan lubang silindris pada permukaan tanah. Ukurannya sengaja
dibuat kecil untuk mengoptimalkan penampang vertikal tanah. Diameter
yang lazim hanya 10 sentimeter. Kedalamannya cukup satu meter dengan
pengertian lebih dari itu akan makin sedikit oksigen sehingga fauna
tanah sulit bertahan hidup.
Alat pembuat LRB disusun dari batang pipa besi 3/4 inci. Pada ujung
bawah diberi mata bor tanah dengan lebar sesuai dengan diameter lubang
yang diinginkan. Pada bagian atas dibuat pipa melintang untuk memudahkan
pegangan ketika ingin memakainya.
”Tukang las besi di mana-mana bisa membuatnya,” kata Kamir, pria
kelahiran Cirebon yang dikaruniai dua anak tersebut.
Kerendahan hati juga mencuat pada sosok Kamir. Ia tak ingin mematenkan
alat pembuat LRB meski alat tersebut ditemukannya sejak tahun 1976.
Akhir-akhir ini pihak instansi IPB-lah yang ingin mengajukan paten
tersebut.
Menurut Kamir, paten itu bermanfaat bagi IPB sekadar untuk mengingatkan
asal-muasal LRB. Kelak akan memudahkan penelusuran metodologinya dalam
kerangka teknologi untuk kelestarian lingkungan.
Padahal, pada masa awal dia memulai menerapkan LRB banyak orang yang tak
menanggapinya dengan serius. Mereka justru menganggap LRB terlalu
sederhana, relatif bisa dilakukan semua orang.
”Karena terlalu sederhana itu, orang mungkin jadi tidak percaya kalau
LRB ada gunanya,” kata Kamir yang justru berusaha membuat alat
sesederhana mungkin sehingga semua orang bisa menggunakannya.
Sosialisasi
Sejak banjir besar melanda Jakarta sekitar Februari 2007, dia makin
getol menyosialisasikan LRB kepada masyarakat. Ia menyosialisasikan LRB
mulai dari tingkat rukun tetangga (RT) sampai provinsi, seperti DKI
Jakarta, dan beberapa universitas di Indonesia.
”Sosialisasi LRB sampai di tingkat RT sekaligus pertanggungjawaban moral
seorang ilmuwan bagi masyarakat,” kata Kamir yang pada April 2007
mendapat penghargaan dari Wali Kota Bogor untuk LRB-nya itu.
LRB memperkecil ruang alasan bagi masyarakat untuk tidak mengambil peran
bagi upaya pelestarian lingkungan, dengan cara meresapkan air bersih
(air hujan) sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. LRB dapat diaplikasikan
pada lahan sempit dengan fleksibel sekalipun di lokasi yang secara
ekstrem dibuat perkerasan 100 persen.
Pemilik rumah dapat membuat LRB pada tanah terbuka, yang sekaligus
menjadi jalur masuk ke rumah. Di sini yang penting lokasi LRB
disesuaikan menjadi permukaan paling rendah sehingga air hujan mengalir
ke LRB. Jarak LRB satu dengan yang lain juga sangat fleksibel, bisa
sampai radius 20 sentimeter dengan perkerasan bibir lubang di permukaan.
Kalau LRB berfungsi meresapkan air ke dalam tanah, lalu apa bedanya
dengan sumur resapan atau situ?
”Hal paling pokok yang membedakan LRB dengan sumur resapan atau situ
adalah pada terciptanya liang biopori pada LRB,” katanya.
Liang biopori merupakan terowongan-terowongan kecil di dalam tanah yang
terbentuk oleh aktivitas fauna tanah seperti cacing, selain akibat
sistem perakaran pohon. Liang biopori ini terisi udara dan bisa
memperlancar jalur air yang meresap.
Letak beda yang juga krusial antara LRB, sumur resapan, dan situ adalah
pada penambahan luas penampang tanah. Makin berkali-lipat luas penampang
tanah, makin besar pula potensi meresapkan air ke dalam tanah.
Kamir membuat perbandingan luas mulut lubang dari yang terkecil dengan
diameter 10 sentimeter sampai 100 sentimeter. Makin kecil diameternya,
maka beda kali lipat luas penampang tanahnya makin besar.
Keanekaragaman hayati
”LRB jelas-jelas berbeda dengan sumur resapan atau situ,” ujar Kamir
sambil menambahkan, LRB memiliki kompleksitas fungsi. LRB berfungsi
meningkatkan laju peresapan air ke dalam tanah untuk dijadikan sebagai
cadangan air tanah.
Fungsi lainnya, sampah organik di dalam LRB pada hitungan waktu tertentu
juga dapat dipungut kembali sebagai pupuk kompos.
Keteruraian sampah organik di dalam LRB berkat peran biodiversitas (keanekaragaman
hayati) tanah sehingga LRB sekaligus menjaga kelangsungan biodiversitas
fauna tanah.
”Selama ini keanekaragaman hayati yang dijaga seperti harimau yang akan
punah atau jenis satwa lainnya yang mulai langka, tetapi fauna tanah
jarang dijaga kelangsungan hidupnya,” kata Kamir bernada keluhan.
Dia menambahkan, di dalam tanah ada kehidupan. Semestinya, setiap
manusia juga menjaga kehidupan di dalam tanah.
Begitu tak diperhatikannya kelangsungan hidup fauna tanah, sampai-sampai
Kamir kerap kali menyitir salah satu syair dalam lagu kebangsaan
Indonesia Raya karya Wage Rudolph Supratman. Ini demi menunjukkan
pentingnya menjaga kehidupan di dalam tanah.
Hal seperti itulah yang biasa dikemukakan Kamir saat memberikan
sosialisasi fungsi LRB mulai dari tingkat RT sampai provinsi. Bait itu
berbunyi, ”Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku
semuanya....”
”Kesadaran pentingnya menjaga kehidupan tanah selalu diingatkan di dalam
lagu kebangsaan kita,” kata Kamir.
Bila dikaitkan dengan isu pemanasan global, menurut Kamir, LRB bisa
berfungsi untuk mengikat karbon dioksida.
Belakangan, semakin banyak orang yang menerapkan LRB karena menganggap
sistem ini dapat diandalkan. Namun, Kamir mengaku tak mungkin bekerja
sendiri. Dia berharap banyak pihak berminat mengembangkan aplikasi LRB
yang dirintisnya.
”LRB terbukti bisa untuk mengurangi genangan. Tetapi, ketika hujan
terjadi, faktanya, masih timbul genangan air di mana-mana dan
mengakibatkan banyak jalan menjadi rusak parah,” katanya prihatin. (Oleh:
Nawa Tunggal, Kompas, Sabtu, 8 Maret 2008)
►ti
Kamir Raziudin Brata, peneliti IPB yang memperkenalkan teknologi yang
disebut biopori. Biopori adalah teknologi alternatif penyerapan air
hujan selain dengan sumur resapan. Istilah beken untuk biopori adalah
istana cacing, walaupun sebenarnya penghuni biopori bukan hanya cacing
saja.
Teknologinya sederhana, cukup dengan membuat lubang di dalam tanah
dengan kedalaman sekitar 1 meter dan diameter kurang lebih 10 cm,
kemudian sampah-sampah organik dimasukkan kedalamnya untuk memancing
binatang-binatang, semut, cacing atau rayap masuk dan membuat biopori
berupa terowongan-terowongan kecil sehingga air cepat meresap. Karenanya
walaupun air tekumpul disitu, kondisinya tidak jenuh air yang berarti
air cukup, udara cukup, dan makanan tercukupi dari sampah -- yang juga
menyebabkan sampah tidak menyebarkan bau. Untuk mencegah orang
terperosok, biopori dapat dilengkapi dengan jaring kawat pengaman.
Biopori membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering
menimbulkan bau tidak sedap dapat tertangani, disamping itu kita dapat
menabung air untuk keperluan musim kemarau. Penerapan biopori di rumah
tangga sangat mungkin dilakukan karena sampah organik dapat dengan mudah
ditemukan di dalam rumah.
Caranya dengan memasukkan sampah rumah tangga organik ke dalam biopori
setelah memisahkan sampah anorganik ke dalam wadah lain. Dengan cara itu
sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap akan habis dimakan
“penghuni” lubang biopori. Pemisahan sampah bermanfaat untuk mempermudah
pemulung sehingga mereka tidak perlu mengais-ngais sampah lagi.
Pembuatan biopori juga mengurangi aliran air dari halaman rumah satu ke
halaman rumah lainnya, atau ke daerah lain yang lebih bawah, yang bisa
menyebabkan banjir. Air hujan yang terserap ke dalam lubang biopori juga
menambah jumlah cadangan air tanah di daerah itu.
Kelebihan lain dari biopori adalah memperkaya kandungan air hujan. Bila
sumber air hanya berupa air hujan tanpa tambahan apa-apa berarti
kandungannya hanya H2O. Namun setelah diresapkan kedalam tanah lewat
biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan
kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan.
Jangan bayangkan lubang biopori hanya bisa dibuat di kampung-kampung
yang masih punya halaman luas. Biopori dapat dibuat di rumah yang
halamannya terbatas karena ukuran diameternya hanya sekitar 10 cm.
Bahkan bisa dilakukan di bangunan-bangunan modern yang halamannya telah
di beton atau di semen. Tentu saja harus ada pengorbanan yang dilakukan,
yaitu dengan melakukan pelubangan terhadap beton dan semen -- memang
memakan biaya -- namun perlu dilakukan karena sangat bermanfaat untuk
mencegah banjir dan memperbanyak cadangan air tanah. Pembuatan biopori
mungkin tidak cukup dengan himbauan sukarela, tetapi harus dengan
sedikit “paksaan” atau jika perlu dengan peraturan daerah. Toh hasilnya
akan dinikmati oleh semua penduduk kota.
Sang penemu biopori, Kamir Raziudin Brata adalah seorang peneliti dan
dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB. Pria kelahiran
Cirebon memperkenalkan biopori sebagai teknologi untuk mengurangi sampah
organik dan mengatasi banjir. Pemkot Bogor telah menyambut baik
teknologi Biopori untuk diterapkan di wilayahnya. Pada ulang tahunnya
bulan Juni ini, Kota Bogor menargetkan pembuatan lubang biopori sebanyak
22.407 buah.
www.republika.co.id
Republika, Minggu, 20 Mei 2007
Wawancara dengan Kamir R Brata
Membangun Istana Cacing
Teknik Biopori Diperkenalkan
Jakarta – Dalam upaya konservasi dan penyimpanan air tanah hingga tidak
terjadi kekeringan di musim kemarau dan tidak banjir di musim hujan,
Departemen Arsitektur Lanskap Faperta Institut Pertanian Bogor (IPB)
bersama PT Erhalogy, produk perawatan kesehatan kulit pria dan wanita,
mengenalkan penerapan teknik biopori kepada RW 08 Kampung Kalibata
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta.
Ditemukan dan diperkenalkan pertama kali oleh Kamir Raziudin Brata,
biopori diciptakan untuk mengolah sampah rumah tangga yang berbentuk
bahan organik menjadi kompos dengan cara sederhana.
Cukup dengan memendamnya dengan lubang tanah yang digali di pekarangan
rumah, teknologi ini dapat memperbaiki struktur dan aerasi tanah, serta
drainase lahan. Ketika turun hujan, sebagian air dapat meresap di dalam
tanah, melalui lubang-lubang yang bisa mengatasi masalah banjir.
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Faperta IPB, Hadi Susilo Arifin,
mengatakan penerapan teknik biopori diawali di Perkampungan Budaya
Betawi Situ Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Pada tahap pertama, kegiatan dilaksanakan pada satu RW, yang terdiri
dari empat RT, dengan masing-masing 30 rumah tangga, yaitu RT 09, RT
010, RT 012, dan RT 013. Pada setiap lima rumah tangga, akan
diproduksikan satu buah Bordosi yang akan digunakan untuk membuat lubang
resapan.
Selain itu, diserahkan 120 tempat sampah untuk digunakan 30 rumah tangga,
delapan drum tempat pembuatan Effective Microorganism (EM), sejumlah
starter EM, delapan paket bahan EM yang sudah jadi, 60 leflet, dan lima
poster A1. (romauli SINAR HARAPAN, Sabtu, 17 November 2007)
Peduli Banjir & Global Warming Erhalogy Kembangkan Teknik Biopori
Sampah rumah tangga yang selama ini disia-siakan pengelolaannya dan
menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta,
dapat dikendalikan, bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan
menjadi lebih hijau, bersih, indah, nyaman dan aman.
Kepedulian PT Erhalogy , produk perawatan kesehatan kulit untuk wanita
dan pria, ternyata tidak saja peduli dengan masalah kesehatan kulit,
namun juga memiliki komitmen untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi masyarakat sekitar.
Contohnya terhadap dampak negatif dari global warming terhadap alam dan
lingkungan hidup. Bukti kepedulian sosial tersebut,ditunjukkan oleh
Erhalogy dengan menggandeng Tim dari Departemen Arsitektur
Lanskap-Faperta IPB untuk melakukan Penerapan Teknik Biopori di
Pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan Jakarta.
Melalui penerapan lubang resapan dengan teknik Biopori ini, dapat
dilakukan konservasi air, sehingga air dapat disimpan di dalam tanah.
Diharapkan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan dan sebaliknya di
musim hujan tidak banjir. Lebih jauh lagi, sampah rumah tangga yang
selama ini disia-siakan pengelolaannya dan seringkali menjadi salah satu
penyebab terjadinya banjir besar di kota Jakarta, dapat dikendalikan,
bahkan bisa menjadi kompos sehingga lingkungan akan menjadi lebih hijau,
bersih, indah, nyaman dan aman.
Biopori ini sendiri ditemukan serta diperkenalkan oleh Ir. Kamir
Raziudin Brata, MS. dari Institut Pertanian Bogor.
Biopori diciptakan untuk mengolah sampah rumah tangga yang berbentuk
bahan organik menjadi kompos dengan cara yang sangat sederhana. Hanya
dengan memendamnya dalam lubang tanah yang digali di pekarangan rumah!
Selain mengatasi masalah sampah, teknologi ini dapat memperbaiki
struktur dan aerasi tanah, serta drainase lahan. Sehingga ketika turun
hujan sebagian air dapat meresap ke dalam tanah melalui lubang-lubang
Biopori, yang bisa mengatasi masalah banjir.
lubang biopori berisi cacing
”Teknik Biopori memiliki berbagai keuntungan. Antara lain, sampah
organik yang terkumpul di dalam lubang Biopori akan menjadi kompos
setelah 3 sampai 4 minggu dalam tanah bila ditambah dengan larutan
effective microorganism (EM),” ujar Dr. Tati Budiarti, anggota Tim dari
Departemen Arsitektur Lanskap - Faperta IPB kepada rileks.com, Sabtu,
17/11-2007, di pekarangan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan
Jakarta.
Hasil kompos tersebut tak hanya bisa digunakan untuk menyuburkan tanah
pekarangan rumah namun bisa juga dipasarkan sehingga memberikan
kontribusi pada pendapatan keluarga.
”Sebagai brand yang selama ini sangat peduli dengan masalah kesehatan
kulit pada wanita dan pria, Erhalogy juga tidak menutup mata dengan
masalah yang dihadapi masyarakat sekitar. Terutama menyangkut masalah
lingkungan hidup seperti global warming," tutur Djoko Kurniawan, Brand &
CRM Manager - Erhalogy, kepada rileks.com .
Erhalogy juga memahami bahwa akibat efek pemanasan global tersebut
masyarakat akan mengalami berbagai masalah yang cukup serius. Mulai dari
kekeringan, banjir, hingga suhu yang makin memanas yang nantinya akan
berdampak negatif pada kulit dan tubuh seseorang. Itu sebabnya Erhalogy
merasa terpanggil untuk memberikan solusi pada masyarakat melalui
kegiatan penerapan teknik Biopori ini,lanjut Djoko Kurniawan.
”Dana untuk kegiatan ini kami kumpulkan dari lelang foto dalam pameran
yang yang bertajuk Ageposure - Aging Through The Eyes of 5 Photographers
yang telah kami lakukan beberapa bulan lalu di Jakarta dan Bandung.”
Sketsa penampang lubang resapan
Program pertama ini akan berjalan di Jakarta selama 4 bulan, yang secara
beriringan dilaksanakan pula di Kampung Sirnagalih dan Kampung
Pagentongan, Kelurahan Loji, kota Bogor. Sehingga secara bertahap
kontribusi Erhalogy dalam mengatasi masalah lingkungan dan global
warming dapat dirasakan oleh masyarakat yang cukup luas.
”Program ini diharapkan bisa berlangsung lancar sehingga bisa membuka
wawasan kita semua bahwa melalui teknologi yang sederhana tetapi sangat
inovatif, bisa memberikan kontribusi besar bagi penanganan masalah
lingkungan. Bukan tidak mungkin, kita bisa membantu pemerintah dalam
mengatasi masalah banjir yang kerap mengkhawatirkan warga Jakarta."
Sebagai brand yang menawarkan solusi bagi perawatan kesehatan kulit
wanita dan pria Indonesia, Erhalogy sendiri, aku Djoko, akan terus
mempertahankan komitmennya untuk mencari hal-hal yang inovatif agar
dapat memberikan yang terbaik dan terbaru bagi para konsumen loyalnya.
(lily
http://www.rileks.com/ragam/index.php?act=detail&artid=31102006116181)
Kecil Lubangnya Besar Manfaat
Kota kita tercinta Salatiga Hati Beriman, merupakan salah satu wilayah
di Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi. Jika musim penghujan tiba,
tidak jarang matahari hanya nampak pada jam 11.00-12.00 saja, itupun
masih diselimuti awan. Namun herannya, di musim kemarau orang direpotkan
dengan masalah kekurangan air, terlebih lagi daerah sebagian kecamatan
Argomulyo kawasan atas.
Kelangkaan air ini merupakan masalah tahunan yang dihadapi Kota Salatiga,
di lain sisi kota ini dikelilingi wilayah yang memiliki sumber mata air
dengan debit cukup tinggi. Contohnya: pemandian Senjoyo, Muncul, Rawa
Permai yang merupakan wilayah Kabupaten Semarang. Sedang di Salatiga
sendiri juga memiliki banyak sumber mata air seperti Kelurahan Kecandran
dan Kutowinangun serta masih banyak potensi mata air lainnya.
Permasalahan ini menimbulkan rasa gerah dikalangan Dinas Pengelolaan
Lingkungan Hidup (DPLH) Kota Salatiga, utamanya Bidang Lingkungan. Oleh
karenanya mulai tahun 2007 ini getol mempromosikan satu temuan salah
satu insinyur dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berupa lubang resapan
air.
Dia adalah Ir. Kamir Raziudin Brata, M.Sc penemu teknologi lubang
resapan sederhana yang diberi nama Lubang Resapan Biopori (LRB), sedang
karena peningkatan laju resapan air terjadi karena terbentuknya bioposi
maka system tersebut diperkenalkan sebagai Saluran Resapan Biopori (SRB).
LBR merupakan lubang berbentuk silinder yang memiliki ukuran diameter
10-30 cm dengan kedalaman 100 cm, namun jangan sampai melebihi kedalaman
muka air tanah. Lubang-lubang biopori ini nantinya dapat diisi dengan
sampah-sampah organic baik dari limbah rumah tangga, atau berupa daun
agar mendorong terbentuknya biopori. Jadi biopori adalah lubang/terowongan
kecil yang dibentuk oleh aktivitas fauna (mikrobia) tanah dan akar
tanaman.
Selain sebagai lubang resapan, LRB juga secara otomatis berfungsi
mencegah banjir di musim penghujan karena meningkatkan daya resap tanah,
mengubah sampah organic menjadi kompos, meningkatkan peran aktivitas
fauna tanah serta mengatasi masalah yang ditimbulkan karena masalah
genangan air berupa penyakit demam berdarah dan malaria.
Mengenai lokasi pembuatan LBR ini dapat ditempatkan dimana saja,
misalnya halaman, kebun, saluran air, tempat genangan air dan sebagainya
asalkan lokasi tersebut dapat dialiri air hujan dan tidak tertutup oleh
atap.
Tahapan pembuatan LRB adalah : pertama, buatlah lubang silinder ke dalam
tanah dengan diameter 10-30 cm serta kedalaman 100 cm (jangan sampai
melebihi kedalaman air tanah), jarak lubang 50-100 cm. Kedua, mulut
lubang dapat diperkuat dengan adukan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 cm
mengelilingi lubang. Ketiga, segera isi LRB dengan sampah organic.
Keempat, kompos yang terbentuk dalam lunbang dapat diambil pada setiap
akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang. Kelima, sampah
organic perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang sudah berkurang
isinya karena proses pelapukan.
Sedangkan jumlah lubang yang harus dibuat untuk setiap luas tanah adalah
dapat menggunakan rumus (50X100): 180= 27, sekian. Jadi untuk setiap
tanah seluas 100 m2 diisi dengan 28 lubang biobori. Contoh tersebut
adalah untuk daerah dengan intensitas curah hujan 50 mm/jam (hujan lebat),
dengan laju peresapan air perlubang 33 liter/menit.
Bila lubang biopori tersebut dibuat dengan kedalaman 100 cm dengan
diameter 10 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah organic,
dan ini dapat dipenuhi sampah organic dapur 2-3 hari. Dengan demikian 28
lubang baru dapat dipenuhi sampah organic
Maka selain mimiliki fungsi penyerap air, LRB juga dapat meringankan
mengatasi masalah persampahan di perkotaan, utamanya sampah organik yang
dapat terurai. Apabila pembuatan lobang biopori telah membudaya di
tiap-tiap warga maka barang tentu permasalahan menumpukanya sampah di
TPA akan terkurangi.
Di Salatiga sosialisasi tentang teknis pembuatan dan manfaat lubang
biopori telah dilaksanakan oleh DPLH, antara lain di Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, di Jembrak Kabupaten Semarang
dengan peserta LSM dan tokoh masyarakat Salatiga, di SD Kecandran, di
SMP N 5 Salatiga, di SMK 2 Salatiga, di Universitas Kristen Satyawacana
(UKSW) dan di daerah masing-masing staf DPLH.
“Dibanding dengan sumur resapan, system ini lebih murah. Jika sumur
resapan ditaksir menghabiskan dana 1-2 juta, sedangkan dengan alat
pembuat lubang biopori harganya antara 150-250 ribu. Akan lebih irit
lagi jika alat tersebut digunakan bersama-sama, misalnya tiap RW
memiliki satu” terang Riawan Widyatmoko Sataf DPLH.
“Selama sosialisasi minat warga Salatiga cukup tinggi, namun mereka
belum mau bertindak. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh enggannya
mereka membeli alat pembuat lubang. Memang manfat biopori agar
menghasilkan mata air cukup lama, tapi manfaat mencegah banjir dan
mengatasi permasalahan sampah dapat dirasakan”tambah Riawan.
Saat ini target utama DPLH adalah Salatiga bagian atas di Kecamatan
Argomulyo dan Sidomukti. Daerah ini sangat strategis untuk daerah
resapan, karena air hujan tidak mengalir diatas tanah melainkan di dalam
tanah setelah diserap lubang biopori.
Ada anggapan air yang ada di lubang bipori akan menimbulkan bau dan
mencemari air bawah tanah. Hal tersebut dibantah oleh Ir. Kamir penemu
teknologi ini. Hal tersebut tidak akan terjadi karena sampah organic
jumlahnya sedikit demikian juga air yang masuk, sehingga tidak akan
terjadi genangan. Air akan meresap kedalam tanah sehingga memudahkan
proses penguraian sampah yang relatif cepat. Kasmir juga menambahkan
jika pada sumur resapan, mungkin terjadi munculnya bau karena volume air
yang cukup tinggi dan menggenang.(lux)
Sumber: DPLH Kota Salatiga, Percik dan Makalah Ir. kamir R. Brata.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|